Perselingkuhan di ranah pernikahan kini seolah jadi tontonan publik. Kisahnya bertebaran di media sosial, konflik rumah tangga figur publik pun disorak-sorai. Ada ironi yang pahit di sini. Di satu sisi, kita serentak mencela. Tapi di sisi lain, perselingkuhan justru kerap dinormalisasi. Alasan-alasan klise pun selalu siap: "cuma khilaf", "sudah minta maaf", atau yang paling sering, "demi anak-anak". Nah, di tengah situasi serba salah ini, korban biasanya terjepit. Harus memilih antara mempertahankan rumah tangga yang sudah retak, atau menyelamatkan harga diri dan kesehatan mentalnya sendiri.
Lantas, bagaimana sebenarnya agama khususnya Islam dan nilai sosial kita memandang hal ini? Apalagi jika pengkhianatan itu terjadi bukan cuma sekali, tapi berulang. Bertahan itu selalu lebih mulia, atau justru ada batas yang tak boleh kita langgar?
Pandangan Agama: Kesetiaan Itu Amanah, Bukan Pilihan
Dalam Islam, pernikahan itu bukan cuma urusan cinta atau kontrak sosial belaka. Ia adalah mitsaqan ghalizha sebuah perjanjian kokoh dan sakral. Dan kesetiaan? Itu adalah inti dari amanah perjanjian itu. Jadi, perselingkuhan bukan sekadar soal sakit hati. Itu adalah pengkhianatan terhadap janji spiritual dan moral yang paling mendasar.
Para ulama sepakat, perbuatan ini termasuk dosa. Bahkan jika belum sampai pada zina fisik, pengkhianatan emosional dan niat yang dipelihara itu sudah melanggar etika Islam. Apalagi kalau dilakukan berulang-ulang. Itu jelas menunjukkan kegagalan menjaga amanah sebagai pasangan.
Memang, Islam membuka pintu taubat lebar-lebar. Tapi taubat itu syaratnya jelas: penyesalan tulus dan perubahan nyata. Kalau perselingkuhan terus berulang tanpa ada upaya perbaikan yang serius, mempertahankan pernikahan bukan lagi kewajiban mutlak. Prinsip la dharar wa la dhirar tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain menjadi patokan. Relasi yang terus-menerus melukai jelas bertentangan dengan tujuan syariat.
Intinya, Islam tidak memuliakan penderitaan atas nama kesabaran. Kesabaran bukan berarti kita harus pasrah dizalimi.
Nilai Sosial Kita: Tahan Banting atau Sekadar Tertekan?
Nah, kalau nilai sosial di Indonesia, ceritanya seringkali nggak jelas. Ambigu. Di banyak komunitas, terutama yang masih kental norma patriarkalnya, korban perselingkuhan biasanya perempuan justru didesak untuk "bertahan demi keluarga". Perceraian dianggap aib. Sementara perselingkuhan sendiri... eh, sering ditoleransi asal jangan terlalu keumbar.
Artikel Terkait
Gudang Solar Ilegal di Muara Enim Ludes Terbakar, Warga Beruntung Tak Jadi Korban
Polisi Gagalkan Lab Vape Narkoba di Apartemen Mewah Pluit
Mobil Dinas Kemenhub Ngebut di Bahu Tol, Ditjen Perhubungan Laut Buka Pemeriksaan
Banjir Jakarta Surut Setelah 63 RT Terendam