Ketika Kesetiaan Dikhianati: Bertahan atau Menyelamatkan Diri?

- Selasa, 13 Januari 2026 | 23:06 WIB
Ketika Kesetiaan Dikhianati: Bertahan atau Menyelamatkan Diri?

Standar ganda inilah yang bikin runyam. Pelaku selingkuh bisa tetap diterima di masyarakat. Sebaliknya, korban yang memilih berpisah malah disudutkan, dibilang "gagal menjaga rumah tangga". Akibatnya, banyak pernikahan cuma bertahan di atas kertas. Rapuh banget secara emosional.

Dampaknya dalam jangka panjang? Bahaya. Rumah tangga tanpa kepercayaan adalah sumber konflik laten dan kekerasan emosional. Lingkungannya jadi nggak sehat untuk anak-anak. Mereka belajar tentang hubungan dari apa yang dilihat, bukan dari nasihat yang kita berikan. Dengan menormalisasi perselingkuhan, tanpa sadar kita mewariskan pola relasi yang rusak ke generasi berikut.

Mempertahankan atau Melepaskan: Garis Tipis Itu Ada Di Mana?

Agama dan akal sehat sebenarnya sepakat. Tujuan pernikahan adalah menciptakan ketenangan, keadilan, dan kasih sayang. Kalau kesetiaan sudah berulang kali diinjak-injak, esensi pernikahan itu sendiri sudah runtuh. Mempertahankannya dalam kondisi seperti ini seringkali bukan soal iman lagi. Tapi lebih ke tekanan sosial dan ketakutan akan stigma.

Islam sebenarnya sudah memberikan solusi yang adil. Perceraian, meski sebagai jalan terakhir, dibuka ketika kemudaratan sudah lebih besar daripada maslahatnya. Dalam konteks ini, berpisah bukan sebuah kegagalan moral. Justru, itu bisa jadi upaya untuk menjaga martabat dan keselamatan jiwa.

Mungkin sudah waktunya kita menggeser cara pandang. Dari sekadar memuja "ketahanan" rumah tangga berapa lama, beralih ke menghargai keadilan, amanah, dan kesehatan sebuah hubungan.

Ketika kesetiaan dikhianati, seharusnya agama dan nilai sosial kita berpihak pada keadilan. Bukan pada pelestarian penderitaan. Islam menegaskan amanah adalah fondasi. Sementara masyarakat kita? Masih bergumul antara norma kolot dan realita luka yang nyata.

Pada akhirnya, pernikahan sebaiknya dinilai bukan dari lamanya ia bertahan. Tapi dari seberapa jujur, aman, dan bermartabat ia dijalani. Kesetiaan itu bukan aksesori. Ia adalah intinya. Kalau intinya sudah rusak, jangan dipaksa untuk tetap terlihat utuh.


Halaman:

Komentar