Prabowo Diminta Pindahkan UGM ke Sumut, Ada Apa?

- Kamis, 11 Desember 2025 | 12:25 WIB
Prabowo Diminta Pindahkan UGM ke Sumut, Ada Apa?

Presiden, Pindahkan UGM ke Sumut!

Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)

Universitas Gadjah Mada, kita tahu, adalah kampus negeri milik negara. Tapi sejarahnya tak bisa dipisahkan dari Yogyakarta. Konon, tanahnya dulu merupakan sumbangsih dari Kesultanan Ngayogyakarta. Namun begitu, sebagai aset negara, sebenarnya pemerintah punya wewenang penuh untuk mengatur keberadaannya. Termasuk, kalau perlu, memindahkannya ke wilayah lain. Ke Sumatera Utara, misalnya. Atau mungkin ke Jakarta.

Ada beberapa alasan yang bisa jadi pertimbangan. Pertama, soal akses dan kolaborasi. Jakarta jelas jadi pintu gerbang global, sementara Sumut punya potensi ekonomi dan letak geografis yang sangat strategis. Kemudian, ada persoalan mentalitas dan moralitas. UGM dinilai sudah "tercemar" oleh dinamika tertentu. Memindahkannya bisa jadi momentum untuk "reset", membuka jalan bagi reformasi internal yang lebih bersih. Alasan lain berkaitan dengan pendidikan sejarah dan kepemimpinan bangsa.

Logika ini muncul bukan tanpa dasar. Ia lahir dari pengamatan terhadap fenomena dan dinamika yang terjadi di tubuh civitas akademika UGM dalam dekade terakhir. Pola pikir dan mentalitas yang terbentuk di era sekarang, menurut sejumlah pengamat, patut dikaji ulang. Karena itu, negara melalui pemerintah pusat memiliki legitimasi sosial-politik untuk memberi semacam "sanksi moral". Tujuannya, agar ada efek jera. Bukan cuma untuk UGM, tapi juga untuk rektorat perguruan tinggi lain di mana pun.

Harapannya, langkah seperti ini bisa menyadarkan semua pihak tentang fungsi sejati perguruan tinggi. Ia harusnya menjadi puncak piramida ilmu pengetahuan, "gudang" tempat segala rupa perspektif sains disimpan dan dikembangkan. Bukan tempat lain. Masyarakat kampus dan luar kampus pun diingatkan: sejarah adalah cabang ilmu yang sah, sama seperti ilmu eksakta. Keduanya tak boleh digunakan untuk membohongi publik.

Implikasi dari kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang berpendidikan justru lebih berbahaya. Bayangkan, mereka digaji dari uang rakyat, berasal dari kalangan cerdas, tapi penerapan ilmunya keliru dan kontraproduktif. Ini jelas melenceng dari tugas utama: mencerdaskan kehidupan bangsa. Ambiguitas pengetahuan yang mereka sebarkan justru bisa menjerumuskan banyak orang. Ujung-ujungnya ya ke jurang kebodohan dan mentalitas sakit. Dampaknya luas: merusak adab, moralitas, dan kebudayaan. Sungguh memalukan.

Maka, memindahkan UGM ke daerah baru, entah ke tanah Sumatera Utara atau ke sebuah gedung tinggi di Jakarta, barangkali bisa jadi faktor penyelamat. Minimal, bagi minoritas di dalam kampus yang masih terbebas dari "residu" pemikiran tertentu. Dengan niat baik, kita bisa berharap: di tempat baru nanti, tidak akan lagi muncul bakat-bakat intelektual semacam Kasmujo atau Sofian Effendi. Juga para alumni yang lelap tidur, tidak proaktif, atau yang lebih parah pandai dan berani tapi terjebak primordialisme serta ingin menipu sejarah perjuangan kelompok tertentu.

Kesimpulan dan saran saya sederhana.

Kepada Bapak Prabowo Subianto, saya mohon dengan hormat. Sebagai Presiden terpilih, tolong pertimbangkan untuk memindahkan lokasi UGM, salah satu aset berharga dunia pendidikan kita. Pindahkan ke Sumut, Jakarta, atau daerah lain yang Bapak anggap tepat.

Tujuannya untuk penyembuhan. Mentalitas dan moralitas UGM, sayangnya, tampak jelas "telah tercemar". Dan langkah drastis ini mungkin saja jadi obatnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar