Pandji Pragiwaksono dan Seni Mengubah Kontroversi Jadi Kontrak Netflix

- Senin, 12 Januari 2026 | 19:00 WIB
Pandji Pragiwaksono dan Seni Mengubah Kontroversi Jadi Kontrak Netflix

"Mas Fit, sebenernya Pandji itu bisa dipidana nggak sih? Omongannya pedes banget..."

Oktrika atau biasa kami panggil Rika bertanya dengan logat Jogja yang masih medok. Dia redaktur junior di desk Infotainment. Wajahnya tampak cemas, tapi juga penasaran. Seperti baru turun dari kereta Prameks dan langsung punya misi.

Saya cuma senyum tipis. Dari balik monitor, sebagai redaktur pelaksana desk Hukum dan Kriminal, pertanyaan semacam itu sudah biasa.

"Kenapa, Rik? Takut idolamu diapa-apain?" goda saya.

"Ya nggak gitu, Mas. Cuma dia kan berani banget nyerang Presiden Prabowo, Wapres Gibran, soal dinasti. Nggak takut diciduk?"

Saya menyeruput kopi saset yang udah dingin. Lalu menatapnya.

"Denger ya, Rik," kata saya sambil duduk lebih tegak. "Pandji Pragiwaksono itu licin. Sangat licin. Mirip belut yang habis mandi oli."

Rika mengernyit.

"Dia berdiri di panggung, pegang mic kayak palu hakim. Teriak soal demokrasi, dinasti, sistem yang bobrok. Penonton tertawa. Netizen pada ribut. X atau Twitter pun ikut panas," lanjut saya.

"Terus apa yang dia lakukan waktu amarah netizen membesar? Ambil air buat padamin? Enggak. Dia malah ambil sate. Diipas-ipasin, dibakar di atas api itu, lalu dijual dengan harga langganan Netflix. Jenius, kan?"

Tiba-tiba, suara berat menyela dari balik kubikel.

"Ah, terlalu sinis kamu, Fit. Itu namanya pendidikan politik!"

Itu Rangga. Redaktur senior desk Politik. Usianya lebih tua, tapi secara struktur dia ada di bawah saya. Dia mendekat sambil bawa rokok yang belum dinyalain. Mukanya serius.

"Dia itu menyuarakan keresahan kita. The Last Stand. Aktivis yang nyamar jadi komika," belanya.

Saya tertawa. Keras.

"Nggak, Mas Rangga. Kamu kejauhan. Dalam hukum pidana, ada istilah Mens Rea. Niat jahat. Itu kunci. Actus non facit reum nisi mens sit rea."

Saya jeda sebentar. Biar istilah Latin itu nyantol dulu.

"Pandji ambil istilah itu buat judul show. Tapi apa niat jahatnya cuma menghina pejabat? Bukan. Dakwaan itu terlalu dangkal. Mens Rea dia yang sebenarnya cuma satu: marketing."

Rangga masih tak terima. "Tapi risikonya gede, Fit. Dia bisa jadi musuh publik."

Saya angkat tangan. Tanda berhenti.

"Coba liat paspornya. Pekerjaannya apa? Politisi? Bukan. Dia pelawak. Pedagang tawa. Di belakang namanya ada perusahaan."


Halaman:

Komentar