Iran kembali melontarkan tuduhan keras. Kali ini, Amerika Serikat dan Israel dituding mengerahkan anggota ISIS atau Daesh untuk masuk ke wilayahnya. Tujuannya? Menyerang warga sipil dan personel keamanan. Pernyataan mengejutkan ini datang langsung dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi.
Menurut Mousavi, langkah itu diambil Washington dan Tel Aviv setelah mereka gagal dalam apa yang disebutnya "perang 12 hari" melawan Iran. Peristiwa itu terjadi belum lama ini.
“Mereka kirim tentara bayaran ISIS untuk bikin kekacauan di sini,” ujarnya. Anggota kelompok itu, katanya, sengaja dikirim untuk melancarkan aksi kekerasan yang menyasar masyarakat biasa dan aparat.
“Satu hal yang pasti,” tegas Mousavi, “Iran tidak akan pernah mentolerir pelanggaran kedaulatan atau integritas wilayahnya.”
Di sisi lain, ia juga berusaha menjelaskan sikap pasukan keamanan. Katanya, mereka sudah menunjukkan penahanan diri dalam menghadapi aksi protes. Namun begitu, kata Mousavi, mereka tak akan membiarkan “unsur-unsur teroris” berkeliaran leluasa di jalanan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari AS maupun Israel. Situasi di Iran sendiri memang sedang panas. Gelombang protes anti-pemerintah mengguncang negara itu sejak sebulan terakhir, dipicu kondisi ekonomi yang makin sulit dan melemahnya nilai tukar rial.
Melemahnya mata uang nasional itu benar-benar terasa. Rial disebut merosot hingga 145.000 per dolar AS. Imbasnya, harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, membuat warga semakin gerah. Sebelumnya, sejumlah pejabat Iran juga sudah menuding ada campur tangan asing. Mereka bilang AS dan Israel mendukung apa yang disebut “perusuh bersenjata” di dalam negeri.
Sementara data resmi dari pemerintah masih simpang siur, sebuah organisasi yang berbasis di AS, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), memberikan perkiraan yang suram. Mereka menyebut korban tewas sudah mencapai sedikitnya 646 orang termasuk aparat dan demonstran. Lebih dari seribu orang lainnya terluka.
Laporan HRANA juga menyebutkan, sedikitnya 10.721 orang telah diamankan. Mereka ditahan di 585 lokasi berbeda, tersebar di 186 kota di seluruh 31 provinsi Iran. Angka yang tak bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Gubernur DKI: 112 Juta Warga Gunakan Transportasi Umum di Triwulan I 2026
Shin Tae-yong Buka Peluang Latih Klub Indonesia Usai Dapat Tawaran
Kebakaran di Grogol Petamburan Tewaskan Satu Keluarga, Diduga Dipicu Korsleting Listrik
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habiskan untuk Judi Online dalam 3 Jam