Memang, naik-turun adalah hal biasa di industri hiburan. Namun begitu, Dio melihat jurang yang kian menganga. Di satu sisi ada yang menang besar, di sisi lain banyak yang gugur tanpa suara. Ketika jaraknya terlalu jauh, risikonya pun jadi tak lagi dibagi bersama.
"Kalau "win–lose rate"-nya terlalu ekstrim, arus modal akan tersendat," lanjutnya.
"Bukan karena industri tidak berkembang, tetapi karena terlalu banyak karya yang tidak sempat menemukan penontonnya. Di titik ini, transformasi tidak bisa ditunda baik dari cara memproduksi, membaca pasar, maupun merancang strategi rilis."
SNF mencatat sebuah pola yang mengkhawatirkan. Banyak film dirilis dengan asumsi yang terlalu optimis, seolah punya peluang yang sama. Padahal, pemetaan risiko dan potensi pasar sejak dini seringkali absen. Akibatnya, dalam persaingan sengit memperebutkan slot layar, film dengan kualitas bagus pun bisa tersingkir dengan cepat.
Jadi, di tengah sorak-sorai rekor dan headline heboh, data ini mengingatkan kita. Peningkatan jumlah penonton nasional belumlah cerita yang utuh. Tantangan nyata tentang pemerataan kesempatan, distribusi layar, dan strategi penayangan yang cerdas, masih terbentang lebar. Itulah sisi lain dari kesuksesan yang perlu kita perhatikan bersama.
Artikel Terkait
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir
Jumlah Pengungsi di Tiga Provinsi Sumatera Menyusut, Sumatera Barat Nol Kasus
PSG Hadapi Chelsea di Parc des Princes, Babak 16 Besar Liga Champions Dimulai