Di sebuah pagi di Malang, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan siswa-siswi baru. Suaranya tegas, menekankan satu hal: ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sekadar pelengkap. Itu adalah tulang punggung peradaban sebuah bangsa. Tanpanya, sulit bagi suatu negara untuk benar-benar maju.
"Pembangunan suatu bangsa terletak kepada kemampuan bangsa itu untuk meraih ilmu pengetahuan dan teknologi," ujarnya, Selasa (13/1) lalu.
"Hanya dengan itu kita bisa mencapai tingkat peradaban yang tinggi."
Momen itu adalah peresmian SMA Taruna Nusantara Kampus Malang. Bagi Prabowo, sekolah semacam ini lebih dari sekadar tempat belajar. Ia melihatnya sebagai jalan untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan.
"Dengan demikian, kita dapat memberi kualitas hidup kepada seluruh rakyat Indonesia," lanjutnya. "Hidup lepas dari kemiskinan dan kelaparan."
Pendidikan, dalam pandangannya, adalah instrumen segalanya. Instrumen pembangunan, kesejahteraan, bahkan demokrasi.
"Pendidikan dan kesehatan adalah instrumen menghilangkan kemiskinan," tegas Ketum Gerindra itu.
Kampus Malang ini sendiri adalah wujud ekspansi. Ia merupakan pengembangan dari SMA Taruna Nusantara legendaris di Magelang. Rencananya, Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN) akan membuka lebih banyak cabang lagi. Tujuannya jelas: menjaring bibit-bibit unggul dari berbagai penjuru.
Prabowo punya keyakinan kuat. Wadah pendidikan seperti Taruna Nusantara sangat dibutuhkan. Ia bahkan menyebut contohnya ada di negara-negara maju, Inggris misalnya, yang punya ratusan sekolah dengan karakter serupa.
"Kita bertekad untuk meraih ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu, kita menambah kampus-kampus semacam ini," jelasnya.
Proses pembangunan kampus seluas 29,6 hektare ini sebenarnya sudah dimulai sejak November tahun lalu. Meski sudah diresmikan, pekerjaan di lokasi masih terus berlanjut. Nantinya, akan ada 30 kelas yang menampung 706 siswa.
Dalam acara tersebut, Prabowo tidak sendirian. Sejumlah nama penting mendampinginya, mulai dari Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Menlu Sugiono, hingga Mendikti Saintek Brian Yulianto. Kehadiran mereka seolah menggarisbawahi betapa seriusnya agenda pendidikan dan sains ini di tingkat pemerintahan.
Pada akhirnya, pesannya sederhana namun mendasar. Untuk naik kelas sebagai bangsa, Indonesia harus menguasai sains dan teknologi. Dan itu semua berawal dari bangku sekolah.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim