IV. Akar Rumput dan Legitimasi Moral
Keputusan strategis yang melibatkan ribuan pengurus daerah dari berbagai penjuru Indonesia itu sinyal penting. Ini upaya menjaga legitimasi dari bawah, bukan cuma keputusan segelintir elite di pusat. Dalam demokrasi, praktik semacam ini patut diapresiasi.
Tapi, legitimasi prosedural tak selalu menjamin ketepatan substantif. Suara mayoritas belum tentu mencerminkan kesiapan yang matang. Euforia kolektif bisa menutupi kerentanan jangka panjang. Deliberasi harus melampaui semangat sesaat. Harus berani mengajukan pertanyaan yang tak populer: soal kesiapan ideologis, kemandirian finansial, dan mekanisme kontrol internal.
Bangsa yang melek politik adalah bangsa yang berani menunda kekuasaan demi kematangan.
V. Pelajaran dari Sejarah Politik
Sejarah politik kita penuh contoh gerakan yang kehilangan ruh setelah masuk kekuasaan. Banyak yang awalnya lahir dari penderitaan rakyat, tapi kemudian terasing dari basisnya sendiri. Kekuasaan itu seperti api. Bisa menghangatkan, bisa membakar tergantung siapa yang memegang dan bagaimana kesiapannya.
Di sisi lain, ada juga gerakan yang memilih tetap di luar kekuasaan, tapi berhasil memengaruhi arah sejarah. Caranya? Lewat konsistensi moral dan tekanan publik yang tak henti. Perubahan tak selalu datang dari kursi parlemen. Kadang, ia lahir dari kesadaran yang tumbuh perlahan, tapi mengakar kuat.
Jadi, tak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua. Yang ada cuma kesesuaian antara tujuan, kesiapan, dan konteks sejarah.
VI. Melek Politik: Tanggung Jawab Bersama
Buat publik, perdebatan ormas versus partai ini harusnya jadi pintu masuk. Untuk paham bahwa politik bukan cuma soal memilih, tapi juga mengawasi. Bukan cuma menang, tapi juga menjaga nilai. Demokrasi yang sehat butuh warga negara yang kritis, bukan pengikut fanatik.
Kita mesti belajar membedakan. Mana gerakan yang tulus, mana yang oportunis. Mana retorika kerakyatan, mana kerja nyata untuk rakyat. Kesadaran politik bukan cuma soal berpihak, tapi soal memahami struktur dan konsekuensi di balik setiap pilihan.
VII. Kesimpulan: Kebijaksanaan Menunda atau Keberanian Melangkah
Di persimpangan ini, pilihan untuk tetap jadi ormas atau berubah jadi partai sama-sama mengandung risiko. Sama-sama punya peluang. Yang menentukan bukan bentuk organisasinya, melainkan kedewasaan politik para penggeraknya.
Kalau kekuasaan dipilih sebelum kesadaran mapan, itu bisa jadi pengkhianatan terhadap cita-cita awal. Tapi kalau kesadaran dibangun tanpa arah strategis yang jelas, ia bisa jadi idealisme yang mandul, steril dari perubahan nyata.
Mungkin, kebijaksanaan terbesar dalam politik bukan selalu keberanian untuk maju. Tapi kemampuan untuk mengetahui kapan harus melangkah dan kapan harus menunggu.
Dan di sanalah, sesungguhnya, demokrasi diuji. Bukan cuma saat pemilu. Tapi saat rakyat dan gerakannya memilih dengan sadar, jalan mana yang akan ditempuh demi masa depan bangsanya. Tabik.
Aendra MEDITA,
mantan Pemimpin Redaksi MURIANETWORK.COM, Analis di Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) Jakarta
Artikel Terkait
Suami Siri Tewaskan Terapis di Bekasi, Lalu Gasak Uang Korban Rp 2,8 Juta
Publik Desak Pandji Segera Rilis Mens Rea 2: Bahan Kritik Masih Melimpah
Cemburu Buta dan Percakapan WhatsApp yang Tak Terhapus, Suami Tewaskan Istri di Bekasi
Pakar Hukum Tata Negara Sindir Wacana Pilkada Lewat DPRD: Itu Bumerang, Politik Uang Malah Makin Mudah