Intelijen Asing dan Seni Menciptakan Kekacauan: Ketika Perang Berubah Wujud

- Selasa, 13 Januari 2026 | 13:00 WIB
Intelijen Asing dan Seni Menciptakan Kekacauan: Ketika Perang Berubah Wujud

Mengadu Domba: Provokasi Konflik Horizontal

Mungkin yang paling merusak adalah ketika mereka menyulut konflik antar kelompok masyarakat. Strateginya klasik tapi efektif: mengadu domba kelompok berbasis identitas, menyebarkan narasi kebencian, dan memicu insiden kecil agar meledak jadi konflik luas.

Alhasil, negara yang sibuk memadamkan api di dalam rumah akan kehilangan tenaga untuk menghadapi tekanan dari luar.

Tekanan dari Panggung Internasional

Operasinya tidak berhenti di perbatasan. Di sisi lain, mereka juga memanfaatkan panggung internasional. Isu HAM dan demokrasi kerap dijadikan alat untuk tekanan diplomatik, disusul sanksi ekonomi. Kampanye untuk melabeli suatu negara sebagai "gagal" atau "represif" juga kerap dilancarkan.

Dampaknya jelas: ruang gerak pemerintah menyempit, sementara kepercayaan investor dan mitra internasional pun merosot.

Menyentuh Perekonomian

Chaos juga bisa diciptakan lewat jalur ekonomi. Serangan terhadap stabilitas mata uang, manipulasi pasar, atau gangguan terhadap sektor-sektor strategis bisa memicu krisis ekonomi tiba-tiba. Dan kita tahu, krisis ekonomi hampir selalu jadi pemicu kerusuhan sosial dan gejolak politik berikutnya.

Lalu, Apa Sebenarnya Tujuan Akhirnya?

Secara strategis, semuanya bermuara pada beberapa hal: melemahkan kedaulatan negara sasaran, mengganti kebijakan atau rezim tanpa perang terbuka, mengendalikan sumber daya alam, dan menjadikan negara itu tidak stabil agar mudah ditekan. Singkatnya, chaos bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk mencapai dominasi strategis.

Lantas, Bagaimana Menghadapinya?

Memahami strategi ini bukan untuk ditiru, melainkan untuk diwaspadai. Negara yang tangguh adalah negara yang punya literasi informasi masyarakat yang baik, menjaga keadilan sosial dan ekonomi, serta memperkuat pertahanan siber dan kontra-intelijennya.

Di era perang tanpa bentuk seperti sekarang, persatuan nasional dan stabilitas internal bukan lagi sekadar cita-cita. Itu adalah benteng pertahanan utama kita.


Halaman:

Komentar