Lewat media sosialnya, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras. Kali ini, bukan hanya soal serangan militer. Negara mana pun yang nekat berbisnis dengan Iran bakal kena imbasnya: tarif 25 persen untuk semua transaksi dengan Amerika Serikat. "Perintah ini final dan mengikat," tegasnya. Ancaman itu dia sampaikan Selasa lalu, langsung ke jutaan pengikutnya di akun @realDonaldTrump.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Trump bersuara keras soal Iran dalam beberapa hari terakhir. Sebelum ancaman sanksi tarif itu keluar, dia sudah lebih dulu bicara soal situasi dalam negeri Iran yang menurutnya kacau balau.
"Iran sedang dalam masalah besar. Tampaknya rakyat Iran sedang merebut beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak ada yang menyangka hal itu mungkin terjadi,"
Ucapannya itu dia sampaikan Jumat lalu, mengutip laporan dari AFP. Dia seolah menanggapi gelombang demonstrasi besar yang melanda Iran sejak akhir tahun lalu. Krisis ekonomi, terutama anjloknya nilai mata uang rial, disebut-sebut jadi pemicu utamanya.
Nah, di tengah situasi panas itu, Trump juga punya pesan khusus untuk para pemimpin di Teheran. Dia memperingatkan agar mereka tidak menembaki para demonstran. Peringatan yang disertai ancaman: kalau larangan itu dilanggar, Amerika Serikat siap bertindak. Serangan militer disebut sebagai opsi yang tidak akan mereka ragukan lagi.
Jadi, ancamannya kini berlapis. Dari tekanan militer hingga sanksi ekonomi yang menjerat siapa pun yang berhubungan dengan Iran. Trump sepertinya sedang memainkan semua kartunya untuk mendesak negara itu. Bagaimana reaksi dunia? Itu yang masih kita tunggu.
Artikel Terkait
Menteri Pertanian Puji Kualitas Bibit Kelapa dan Kakao di Konawe Selatan, Targetkan 3 Juta Lapangan Kerja Baru
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri
BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Stabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Dolar AS
DPR Pimpin Rapat Koordinasi Fiskal-Moneter dengan Pemerintah dan BI untuk Evaluasi Ekonomi Nasional