Sekolah juga tak boleh tinggal diam. Pendidikan literasi digital dan penguatan tentang batasan diri harus masuk dalam kurikulum, bukan sekadar tambahan.
Di sisi lain, platform digital punya tanggung jawab besar. Mereka harus menyediakan sistem keamanan dan mekanisme pelaporan yang benar-benar bekerja, bukan sekadar jadi fitur pajangan.
Negara? Jelas tidak boleh absen. Regulasi yang melindungi anak di ruang digital harus ditegakkan, didukung dengan kampanye edukasi yang gencar. Penanganannya tidak bisa cuma reaktif, menunggu korban berjatuhan dulu. Pendekatan preventif jauh lebih penting untuk mempersempit ruang gerak pelaku.
Pada intinya, child grooming ini soal kepedulian sosial bersama. Bukan cuma urusan hukum. Ketika masyarakat makin peka dan berani bicara, pelaku akan semakin sulit bergerak.
Ruang digital seharusnya jadi tempat yang aman untuk anak belajar dan bermain. Menyadari ancaman ini adalah langkah awal. Tapi kesadaran tanpa aksi itu percuma. Melindungi anak-anak kita adalah tugas kolektif. Dan upaya itu harus dimulai sekarang, sebelum ancaman yang tak kasat mata ini merenggut lebih banyak korban.
Artikel Terkait
Lima Video yang Sengaja Disembunyikan Media Barat: Inilah Wajah Iran yang Tak Boleh Anda Lihat
Remaja Bergigi Kawat Ditemukan Tewas di TPU Bekasi, Leher Terjerat Ikat Pinggang
Prabowo Haru di Banjarbaru: Orangtuamu Jauh Lebih Mulia daripada Koruptor
Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Kritik Keras Teori Ekonomi Tetes ke Bawah