Jebakan di Balik Layar: Menguak Ancaman Child Grooming di Era Digital

- Senin, 12 Januari 2026 | 23:06 WIB
Jebakan di Balik Layar: Menguak Ancaman Child Grooming di Era Digital

Dunia anak-anak sekarang ini sudah jauh berbeda. Mereka tumbuh di tengah gawai, media sosial, dan game online yang seakan jadi bagian alami dari keseharian. Akses informasi dan ruang kreativitas terbuka lebar, itu memang sisi positifnya. Tapi, di balik layar yang terang itu, ada ancaman samar yang seringkali luput dari perhatian kita. Salah satunya adalah praktik child grooming.

Jangan bayangkan ini kejahatan yang terjadi dalam sekejap. Child grooming itu prosesnya pelan, sistematis, dan penuh tipu daya. Intinya, pelaku dengan sengaja membangun kedekatan dan kepercayaan dari seorang anak, hanya untuk dieksploitasi nantinya. Mereka biasanya memulai dengan sikap yang super ramah, penuh perhatian, atau pura-pura jadi tempat curhat yang paling mengerti. Dari situlah jebakan dimulai.

Nah, bahayanya justru ada di situ. Korban seringkali tidak sadar sedang dimanipulasi. Malah, mereka bisa merasa nyaman dan punya ikatan emosional dengan si pelaku. Akibatnya, saat diminta melakukan hal-hal yang melanggar batas, anak merasa serba salah. Takut hubungannya rusak, atau malah merasa bersalah sendiri. Kondisi psikologis mereka yang masih berkembang membuatnya sangat rentan terhadap permainan pikiran seperti ini.

Di Indonesia, risikonya makin besar. Penggunaan internet dan gadget di kalangan anak melonjak, tapi sayangnya literasi digital belum merata. Banyak yang masih berpikir, "Ah, cuma chat-an di game, aman-aman aja." Padahal, interaksi virtual itu bisa jadi pintu masuk bagi orang-orang tak dikenal dengan niat buruk. Dampak psikologisnya bisa sangat dalam dan bertahan lama, meski tak ada kontak fisik sekalipun.

Lalu, siapa yang harus bertindak? Semua pihak punya perannya masing-masing. Di rumah, orang tua kunci utamanya. Menciptakan komunikasi yang terbuka dan tanpa rasa takut untuk bercerita adalah fondasi terpenting. Kalau anak merasa aman, mereka akan lebih mudah mengungkapkan hal yang mencurigakan.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar