Di Balik Kunjungan Menhan ke Masjid Soeharto: Mengulur Benang Merah Solidaritas Indonesia-Bosnia

- Senin, 12 Januari 2026 | 22:24 WIB
Di Balik Kunjungan Menhan ke Masjid Soeharto: Mengulur Benang Merah Solidaritas Indonesia-Bosnia

Minggu lalu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Soeharto di Sarajevo. Kunjungan kerja ke Bosnia dan Herzegovina itu memang punya agenda utama membahas kerja sama pertahanan. Tapi, mampir ke masjid bersejarah itu jelas bukan sekadar selingan biasa.

Masjid itu, yang juga dikenal warga lokal sebagai Masjid Istiklal, punya cerita panjang. Ia adalah saksi bisu solidaritas Indonesia terhadap Bosnia dan Herzegovina di masa-masa sulit pasca konflik Balkan tahun 90-an. Bayangkan, di tengah reruntuhan pasca perang, Indonesia hadir dengan inisiatif membangun tempat ibadah sebagai bentuk dukungan moral. Itu bukan hal sepele.

Menurut keterangan pers Kemenhan yang dirilis Senin (12/1), nilai historisnya sangat kuat.

"Secara historis, Masjid Soeharto memiliki keterkaitan erat dengan peran Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, yang mendorong keterlibatan aktif Indonesia dalam diplomasi perdamaian dan solidaritas internasional,"

Begitu bunyi pernyataan resmi mereka. Lalu, ditegaskan lagi,

"Pada masa tersebut, Indonesia secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam mendukung penyelesaian konflik Bosnia dan Herzegovina melalui jalur diplomasi, kemanusiaan, serta kerja sama multilateral."

Nah, kunjungan Sjafrie ini bisa dilihat sebagai penegasan. Indonesia ingin menunjukkan bahwa hubungan dengan Bosnia bukan cuma soal masa lalu. Ikatan historis yang dibangun dari kepedulian kemanusiaan itu ingin diteruskan, dihidupkan lagi.

Di sisi lain, pesannya jelas: komitmen Indonesia sekarang lebih luas. Tidak cuma terpaku pada kerja sama pertahanan semata, tapi juga kemitraan strategis yang ikut menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan. Kunjungan singkat ke masjid tua itu, rupanya, bicara banyak hal.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar