Filsuf George Santayana punya peringatan yang terkenal: “Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu ditakdirkan untuk mengulanginya.” Brehoh menjadikan ingatan itu sebagai pagar, agar kesalahan yang sama tidak terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Jadi, seperti apa sebenarnya pemimpin yang layak dipercaya itu? Di malam-malam sunyi, ketika hiruk-pikuk kekuasaan mereda, pertanyaan itu kerap mengemuka. Jawabannya sebenarnya tidak rumit, tapi sekaligus sangat sulit diwujudkan.
Pemimpin itu harus jujur bahkan ketika kejujuran itu terasa menyakitkan. Ia harus bijaksana bahkan ketika kebijaksanaannya membuatnya tidak populer. Dan ia harus mau mendengar bahkan ketika mendengar berarti harus mengakui kekeliruannya sendiri.
“Seorang pemimpin adalah pelayan, bukan tuan,” tulis Leo Tolstoy. Brehoh seakan mengangguk dalam diam membaca kalimat itu. Sebab di sanalah esensi kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling manusiawi. Melayani bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang paling sunyi dan mendalam.
Mereka mencari pemimpin yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Yang menimbang dengan hati nurani, bukan sekadar dengan kalkulasi kepentingan sesaat.
Kebijaksanaan di Brehoh tak selalu tampak dalam keputusan-keputusan besar yang menggemparkan. Kadang, ia justru terpancar dari kesediaan untuk menunggu, dari keberanian mengakui “saya belum tahu,” atau dari sikap diam yang penuh perhatian. Pemimpin yang bijak paham, tidak semua masalah butuh jawaban instan, tapi setiap orang butuh untuk didengarkan.
Nelson Mandela pernah berujar, “Untuk memimpin, seseorang harus melayani.” Di Brehoh, kalimat itu bukan slogan kosong. Ia adalah cermin yang terus dihadapkan. Pengingat bahwa kepemimpinan pada hakikatnya adalah perjalanan moral, bukan perlombaan berebut kekuasaan. Pemimpin sejati tidak meninggalkan jejak berupa ketakutan, melainkan kepercayaan yang tumbuh subur.
Dan perlu dicatat, pencarian Brehoh ini bukan hanya ditujukan pada mereka yang berdiri di podium. Setiap warga memikul sebagian kecil dari amanah bersama itu. Kejujuran dan kebijaksanaan tidak akan tumbuh di lingkungan yang memaafkan kebohongan, atau di tanah yang menolak dikritik. Itulah sebabnya Brehoh juga berusaha menjaga dirinya sendiri dengan terus bertanya, mengingatkan, dan tidak mudah terpesona oleh buaian kata-kata.
Pada akhirnya, Brehoh tetap pada pencariannya: mencari pemimpin jujur dan bijaksana, yang mendengar sebelum memerintah, dan melayani sebelum meminta.
Itu bukan lagi sekadar harapan. Ia telah menjadi doa yang terus berjalan, nilai yang dijaga ketat, sekaligus kompas yang menunjuk ke arah masa depan. Brehoh masih percaya. Selama prinsip-prinsip itu dipegang teguh, selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti, kepemimpinan akan kembali menemukan wajah aslinya: manusia yang dengan tulus melayani sesama manusia.
Aendra Medita
12 Januari 2026
Artikel Terkait
Cinta dan Rivalitas Berkecambah di Balik Meja Rapat
Sjafrie Ingatkan Prajurit Pembangunan: Kalian Tetap Pasukan Tempur
Mayor TNI Dituntut 5 Bulan Penjara Usai Janjikan Kelulusan TNI dengan Tarif Rp 350 Juta
Buronan Korupsi Rp 3,5 Miliar Tertangkap di Kendari Setelah 2 Tahun Kabur