Brehoh Mencari Pemimpin Jujur dan Bijaksana
yang mendengar sebelum memerintah,
dan melayani sebelum meminta
Brehoh itu bukan tempat di peta. Ia lebih mirip sebuah kerinduan yang hidup, tumbuh subur di antara harapan orang-orang yang sudah muak dengan janji kosong. Di sana, waktu berjalan dengan ritmenya sendiri, pelan, memberi ruang untuk berpikir sebelum bertindak. Kepemimpinan di Brehoh tak diukur dari kerasnya suara, tapi dari kedalaman nurani.
Intinya, Brehoh sedang mencari sosok pemimpin yang jujur dan bijaksana. Bukan tipe yang cuma muncul saat ada sorotan kamera. Melainkan orang yang tetap tegak dan konsisten saat tak ada satu pun mata yang mengawasi.
Di tempat ini, kejujuran bukan sekadar kata-kata indah untuk pemanis pidato. Ia adalah pilihan yang seringkali menyakitkan, sebuah luka yang diterima dengan sadar karena berkata benar kadang berarti kehilangan. Thomas Jefferson pernah menulis bahwa kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan. Nah, di Brehoh, prinsip itu benar-benar dihidupi. Mereka paham, kebijaksanaan tak mungkin lahir dari tipu daya, melainkan dari keberanian untuk jujur sejak awal.
Namun begitu, dunia nyata seringkali tak ramah pada nilai-nilai seperti itu. Banyak pemimpin datang dengan retorika manis, kalimatnya dirangkai rapi bagai doa, tapi kosong dari kesetiaan. Mereka gemar bicara tentang rakyat, tapi tak pernah benar-benar mendengar. Mereka buru-buru memerintah, tanpa sempat memahami. Dari sinilah orang Brehoh belajar: mendengar adalah bentuk penghormatan tertinggi.
“Kebijaksanaan sejati datang dari mendengarkan,” begitu kata Confucius. Brehoh menyimpan kalimat itu laksana benih berharga. Sebab hanya mereka yang mau mendengar yang pantas dipercaya untuk berbicara.
Pemimpin bijaksana tahu satu hal: suara paling penting justru sering yang paling pelan. Keluhan yang lirih jauh lebih jujur daripada tepuk tangan yang riuh. Mereka mencari pemimpin yang mau duduk lebih rendah, agar bisa menatap mata mereka yang terlupakan. Pemimpin yang mampu menahan kata-katanya, agar makna tidak terbuang sia-sia.
Lalu ada prinsip lain: melayani sebelum meminta. Itu hukum tak tertulis di Brehoh. Kekuasaan di sini bukan tangga untuk menaiki tahta, melainkan beban yang harus dipikul dengan sungguh-sungguh. Pemimpin bukanlah pusat panggung, melainkan penjaga yang berdedikasi.
Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Cara terbaik menemukan dirimu adalah dengan mengabdikan diri pada pelayanan terhadap orang lain.” Di Brehoh, filosofi itu mengalir seperti sungai tenang tidak memaksa, tapi memberi kehidupan.
Sayangnya, tak semua orang siap untuk konsep melayani ini. Banyak yang lebih nyaman memberi perintah daripada memikul tanggung jawab. Lebih senang diberi hormat daripada memberi contoh. Kekuasaan memang sering memabukkan, membuat orang lupa bahwa amanah hanyalah titipan, bukan hak milik. Di titik inilah kebijaksanaan seorang pemimpin diuji: apakah ia masih ingat alasan awal dipilih, atau sudah tersesat dalam bayang-bayang egonya sendiri.
Brehoh sudah menyaksikan banyak perubahan. Niat baik yang menua, janji yang retak dimakan waktu. Tapi mereka memilih untuk tidak membenci. Mereka memilih untuk mengingat. Karena ingatan, bagi mereka, adalah bentuk penjagaan yang paling utama.
Artikel Terkait
Cinta dan Rivalitas Berkecambah di Balik Meja Rapat
Sjafrie Ingatkan Prajurit Pembangunan: Kalian Tetap Pasukan Tempur
Mayor TNI Dituntut 5 Bulan Penjara Usai Janjikan Kelulusan TNI dengan Tarif Rp 350 Juta
Buronan Korupsi Rp 3,5 Miliar Tertangkap di Kendari Setelah 2 Tahun Kabur