Lalu, apa dampaknya kalau kebohongan jadi kebiasaan?
Pertama, bohong terus-terusan memicu stres kronis. Lama-lama, keseimbangan hormon tubuh bakal kacau dan sistem imun melemah.
Gangguan mental pun mengintai. Mulai dari kecemasan, rasa bersalah, sampai depresi bisa menghampiri.
Tekanan jiwa juga tak terhindarkan. Soalnya, tindakan bohong bertentangan dengan hati nurani. Beban psikologisnya berat karena si pembohong harus terus mengingat kebohongan yang dia buat.
Hidupnya jadi gelisah, niatnya jadi tidak murni. Dampaknya, kesejahteraan spiritual dan mentalnya terganggu.
Ujung-ujungnya, yang terbangun cuma ilusi rapuh dan ketidakstabilan di dalam diri.
Nah, korelasi antara temuan medis dan ayat Al-Qur’an ini bukan kebetulan. Sebagai firman dari Pencipta manusia, kebenarannya mutlak.
Di sisi lain, manusia tidak punya hak untuk memvonis sesamanya. Itu hak mutlak Sang Khalik. Kehidupan kita sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya. Apakah kita dapat petunjuk atau tidak, itu akan terlihat nanti. Tandanya akan jelas pada akhir hayat.
Berbeda dengan urusan dunia. Hukuman atas kebohongan yang merusak negara, misalnya, itu ranah manusia. Itu hak negara berdasarkan hukum yang berlaku.
12 Januari 2026
Artikel Terkait
Prabowo Terkesima, Hampir Menangis Saat Saksikan Kehebatan Murid Sekolah Rakyat
Diplomat Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB di Tengah Badai Geopolitik
Prabowo di Banjarbaru: Jangan Malu Orang Tuamu Buruh atau Petani
Prabowo Tepis Teori Menetes ke Bawah: Kesejahteraan Rakyat Bukan Cuma Angka Pertumbuhan