Nah, di tengah situasi itulah Dokter Tifa bersuara. Dia menyebut dirinya bersama dua pakar lain, Rismon Sianipar dari digital forensik dan Roy Suryo di bidang telematika, telah memilih jalan pertama: menjadi orang berani.
Memang, kata dia, ketiganya tak selalu tampil kompak. Ada kalanya cuma dua yang terlihat, atau bahkan sendirian. Foto bersama yang dia unggah pun seolah menegaskan bahwa kebersamaan fisik mereka tidak mutlak.
Namun begitu, ada satu momen yang menyatukan mereka. Tanggal 15 April 2025, di kampus UGM, menjadi titik awal. Sejak saat itu, mereka berjuang untuk satu tujuan yang sama.
Dia menutup cuitannya dengan slogan "RRT. One for all. All for One." Sebuah penegasan solidaritas di tengah gelombang kasus yang masih terus bergulir. Sindiran tentang "orang hina" itu, dalam diam, telah menyisipkan narasi baru dalam perbincangan publik yang sudah begitu panas.
Artikel Terkait
Prabowo Penuhi Permintaan Siswa Berfoto Usai Resmikan 166 Sekolah Rakyat
Influencer Timothy Ronald Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Penipuan Trading Kripto
Hujan Deras Pagi Ini, 23 Ruas Jalan dan 10 RT di Jakarta Terendam
Kemayoran Tergenang, 23 Titik di Jakarta Terendam Banjir Pagi Ini