Tapanuli Utara Siapkan Ground Breaking Huntap, Data Warga Diverifikasi Ketat

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 12:15 WIB
Tapanuli Utara Siapkan Ground Breaking Huntap, Data Warga Diverifikasi Ketat

Di Kabupaten Tapanuli Utara, upaya pemulihan pasca bencana hidrometeorologi terus bergulir. Fokusnya kini bergeser ke pembangunan hunian tetap, atau huntap, bagi warga yang rumahnya hancur. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menegaskan hal ini adalah komitmen pemerintah untuk pemulihan jangka panjang.

"Upaya ini bagian dari komitmen kami," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (20/12/2025).

Menurutnya, pemulihan harus terarah, terukur, dan yang paling penting, berpihak pada keselamatan serta keberlanjutan hidup masyarakat.

Namun begitu, sebelum ground breaking dimulai, pekerjaan rumit di belakang layar sedang diprioritaskan. BNPB saat ini menitikberatkan pada penguatan data dan administrasi. Proses verifikasi calon penerima bantuan digeber. Tujuannya jelas: memastikan bantuan tepat sasaran dan bisa segera direalisasikan begitu masa tanggap darurat berakhir.

Di lapangan, pemantauan juga berjalan. Tim tidak hanya mengecek progres hunian sementara (huntara), tapi juga mempersiapkan lokasi huntap. Mereka bahkan sudah membangun rumah contoh di Desa Sibalanga.

"Rumah contoh itu jadi acuan teknis," tutur Muhari.

Bangunan itu dirancang agar aman, layak huni, dan tahan terhadap ancaman bencana. Sekaligus, ia berfungsi sebagai sarana sosialisasi nyata bagi warga tentang standar bangunan yang akan diterapkan nanti.

Langkah sosialisasi ini memang sengaja diintensifkan. Beberapa waktu lalu, BNPB mendampingi pelaksanaan sosialisasi program di Kantor Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting. Masyarakat diajak memahami mekanisme bantuan, tahapan pembangunan, serta peran aktif mereka dalam proses pemulihan ini.

Peta kebutuhan jangka panjang sudah digariskan. Pemerintah mencatat ada 5.974 rumah rusak berat yang harus dibangun kembali. Sementara untuk huntara, rencana pembangunan 2.524 unit kini masuk tahap identifikasi lahan, termasuk di Tapanuli Tengah dan Langkat. Khusus Tapanuli Utara, agenda sudah menanti.

"Ground breaking pembangunan hunian dijadwalkan akan dilaksanakan langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman pada Minggu (21/12)," kata dia.

Ke depan, pendekatannya akan holistik. Bukan cuma soal menyelesaikan fisik bangunan dengan cepat, tapi juga mempertimbangkan aspek keamanan, keberlanjutan lingkungan, dan tentu saja, pemulihan sosial ekonomi warga. Intinya, membangun kehidupan yang utuh kembali.

Di sisi lain, situasi darurat belum sepenuhnya usai. BNPB masih mengintensifkan penanganan banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara. Hingga Jumat (19/12), korban meninggal tercatat 369 jiwa. Operasi SAR di empat sektor krusial masih terus dilakukan untuk mencari 71 orang yang hingga kini dinyatakan hilang.

Pemulihan infrastruktur juga digenjot di 12 kabupaten/kota terdampak. Dari 362 titik gangguan yang teridentifikasi, penanganan bertahap sudah berjalan. Meski begitu, beberapa koridor utama seperti Tarutung–Sibolga dan Sibolga–Batangtoru masih butuh perhatian ekstra.

Seiring dengan itu, distribusi logistik tak boleh kendor. Pada Jumat (19/12) saja, bantuan yang disalurkan sudah mencapai 9,69 ton. Isinya beragam, mulai dari kebutuhan pangan, sanitasi, hingga alat evakuasi. Kabar baiknya, seluruh rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak sudah beroperasi penuh untuk mendukung layanan kesehatan.

Pada akhirnya, komitmen BNPB bukan sekadar membangun tembok dan atap. Lebih dari itu, mereka berusaha menghadirkan kembali rasa aman dan menanamkan harapan baru. Agar masyarakat yang terdampak punya fondasi kuat untuk bangkit, dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar