Lalu, apa sebenarnya tujuan utama Al Munadi? Dwi menjabarkannya dengan jelas: membentuk generasi Qurani. Generasi yang menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, berguna bagi masyarakat luas, dan tentu saja, berbakti pada orang tua.
Pembicaraan kemudian melebar. Dwi menyentuh peran vital anak muda dalam membangun peradaban. Ia memberi contoh nyata, seperti gerakan Jogokariyan yang sukses menghidupkan masjid. Atau program Masjid Sejuta Pemuda yang awalnya dari Masjid At-Tin, lalu meluas setelah viral di media sosial. Baginya, masjid harus jadi pusat peradaban dan semestinya dikelola oleh semangat muda.
Di sisi lain, aktivitas Al Munadi tak berhenti di pendidikan. Mereka juga aktif turun tangan dalam aksi sosial kemanusiaan. Saat bencana melanda Sumatera, yayasan ini berkolaborasi dengan Yayasan RSIB dan IPHI Kota Bogor.
Mereka membangun huntara, hunian sementara untuk pengungsi. Tak cuma itu, para kiai dan relawan terjun langsung ke lokasi terdampak. Mereka mendirikan musala, mengoperasikan dapur umum, menyalurkan bantuan. Semua dilakukan untuk meringankan beban masyarakat yang sedang susah.
Cerita panjang 14 tahun itu akhirnya berhenti sejenak. Tapi misinya jelas masih jauh. Dari dua kelas sederhana, kini Al Munadi terus menapak, berusaha memberi warna bagi umat.
Artikel Terkait
Di Balik Gaduh KUHP Baru: Ketika Hukum Berubah Jadi Hantu di Ruang Publik
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?