Tujuh tahun hidupku dihabiskan di pesantren. Semua serba teratur: bangun untuk tahajud, salat Subuh berjamaah, lalu mengikuti ta’lim pagi. Suasana hening, hanya terdengar lantunan doa dan halaman kitab yang dibalik. Malamnya, aku tertidur lelah setelah menghafal dan murojaah. Itu rutinitasku. Sederhana, tapi penuh makna.
Namun begitu, semua itu kini hanya tinggal kenangan. Saat lulus, sebenarnya aku ingin menetap di pondok. Ingin mengabdi pada kiai. Tapi keinginan orang tua berbeda. Mereka punya harapan lain: agar aku melanjutkan ke perguruan tinggi.
Awalnya, aku merasa siap. Bekal dari pesantren rasanya cukup kokoh untuk menghadapi dunia luar. Ternyata, aku keliru. Dunia kampus sama sekali berbeda dengan pesantren. Dan perlahan, aku mulai kehilangan arah.
Menjadi mahasiswa disebut-sebut sebagai fase mencari jati diri. Dulu, aku anggap itu cuma jargon motivasi biasa di acara orientasi. Tapi setelah menjalani beberapa semester, baru aku paham. Ini bukan cuma soal tugas, nilai bagus, atau makalah. Di sini ada perjalanan panjang yang berisi segalanya: pertemanan, kekecewaan, pengalaman pahit-manis, sampai pencapaian kecil yang justru paling berharga.
Awal-awal, rasa bebas itu begitu terasa. Tak ada bel tanda waktu salat. Tak ada ustaz yang menegur karena tidak mengaji. Tak ada pengurus yang marah jika hafalan tak lancar. Aku menikmatinya, mungkin tanpa sadar. Nongkrong dengan teman, diskusi santai di warung kopi, sibuk dengan tugas kuliah. Hidupku dipenuhi kegiatan duniawi.
Di semester awal, salat lima waktu masih tepat waktu. Tapi lama-lama, mulai molor. Sibuk ngerjakan tugas, main game, atau sekadar ngobrol, jadi alasan. Sekali dua kali telat, lalu berubah jadi sering. Kadang, satu waktu salat terlewat sama sekali.
Kitab kuning yang dulu selalu kubawa, kini digantikan laptop berisi file tugas. Malam yang dulu kuhabiskan untuk tahajud, kini berganti dengan tidur lelah atau scroll media sosial tanpa ujung.
Hari-hari berlalu sibuk, tapi rasa tenang justru menghilang. Pernah suatu malam, aku duduk sendiri di teras. Cahaya bulan menyinari. Di situ, aku merenung. Bertanya pada diri sendiri, "Diriku yang dulu ada di mana? Apa yang sebenarnya kulakukan? Jangan-jangan, aku salah jalan?" Pertanyaan itu berputar-putar di kepala, tak menemukan jawaban.
Aku teringat sebuah perkataan, "ilmu tanpa iman itu bagaikan cahaya tanpa arah." Dan saat itu, aku sadar. Arahku sudah kabur. Iman yang dulu menyala, kini meredup di tengah kesibukan kampus.
Semakin jauh aku melangkah, semakin banyak warna kehidupan yang kulihat. Dari kesalahan kecil, sampai yang besar.
Dulu di pesantren, kesalahan terbesar mungkin cuma bawa HP sembunyi-sembunyi, bolos taklim, atau iseng menggembosi ban motor ustaz. Kalau ketahuan, rasanya malu sekali. Bisa-bisa nama dipajang di papan pengumuman. Tapi di kampus, semuanya berbeda. Bahkan, ada yang seolah berlomba melakukan hal yang salah. Minum-minuman keras di tempat umum, pamer hal negatif di media sosial, lalu mengajak yang lain ikut-ikutan. Mereka tak malu. Malah, terlihat bangga.
Aku sendiri nyaris terjerumus. Sampai suatu kali, aku diajak ke sebuah ruangan. Lampunya berkedip-kedip. Di atas meja, berjejer minuman keras. Sebelum tangan ini menyentuh gelas apa pun, aku langsung tersadar. Aku buru-buru ke kamar mandi, berwudhu, dan bertawasul memohon kekuatan pada guru-guruku di pesantren.
Dalam hati, aku berbisik, "Ya Allah, apa yang kulakukan ini? Terlalu jauh aku mengenal dunia. Ini bukan yang kuinginkan."
Rasa syukur itu menyelamatkanku. Tuhan mengingatkanku akan rasa takut takut terjatuh ke jalan yang salah.
Adakalanya, aku ingin kembali saja ke masa lalu. Ke pesantren, di mana teguran dan nasihat selalu ada. Setidaknya, di sana aku takkan sampai nyaris terjerumus seperti ini.
Memang, di zaman sekarang, pondok pesantren tetaplah tempat terbaik untuk menjaga diri. Kampus sendiri sebenarnya tidak buruk. Semua kembali pada pilihan kita masing-masing. Sebagai santri, kita membawa nama baik pondok dan guru. Jangan sampai perbuatan kita mencorengnya.
Guruku pernah mengajarkan satu pedoman: "مازلت طالبا" "selamanya aku adalah santri." Tak ada istilah mantan santri. Prinsip itulah yang kini coba kugenggam kembali.
Achmad Musyafiq, Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Artikel Terkait
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, Wacana Film Layar Lebar Mengemuka
KAI Tutup 1.800 Perlintasan Liar yang Dinilai Picu Kecelakaan Kereta Api
Hujan Ringan hingga Sedang Diprediksi Guyur Sebagian Besar Wilayah Sulsel Sepanjang Hari
Tiga Petugas Lapas Blitar Diperiksa Usai Jual Beli Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi