Menteri Wihaji: Pahami Bahasa Kasih dan Karakter untuk Jaga Harmoni Keluarga di Era Digital

- Senin, 15 Juni 2026 | 03:15 WIB
Menteri Wihaji: Pahami Bahasa Kasih dan Karakter untuk Jaga Harmoni Keluarga di Era Digital

Memahami bahasa kasih menjadi kunci menjaga keharmonisan keluarga di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Hal itu disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, yang menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurut Wihaji, pemahaman terhadap karakter dan bahasa kasih menjadi salah satu bekal penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Ia menilai, dengan memahami watak, cinta, dan bahasa kasih, sebagian besar persoalan dalam keluarga dapat terselesaikan.

"Dari mana memperbaiki keluarga? Kalau kita memahami bahasa kasih, watak, dan cinta, insyaa Allah setengah masalah selesai," ujar Wihaji dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.

Perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat, lanjutnya, menuntut hadirnya pendekatan baru dalam membangun hubungan keluarga yang sehat. Wihaji menegaskan perlunya cara-cara baru, ilmu baru, dan metode baru untuk kebaikan bersama.

"Tentu kita harus punya cara-cara baru, ilmu baru, metode baru untuk kebaikan bersama. Pemahaman mengenai bahasa kasih dan karakter menjadi salah satu bekal penting agar keluarga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman," katanya.

Sementara itu, Pakar Neurosains dan Konsultan Keluarga, Aisah Dahlan, menjelaskan bahwa watak merupakan program bawaan manusia yang telah diberikan sejak lahir dan diwariskan secara genetik. Namun, ia mengingatkan bahwa perbedaan watak tidak boleh menjadi alasan untuk saling memberi label baik atau buruk karena setiap individu memiliki karakteristik yang unik.

Ia menambahkan, watak yang bersifat bawaan itu bukan berarti tidak bisa dibentuk. Meskipun program watak sudah tertanam di otak manusia sejak dalam rahim, watak tetap bisa diarahkan.

"Watak bisa dibentuk dengan kita memasukkan ilmu dan prinsip hidup di otak bagian depan, yakni frontal lobus," ucap Aisah.

Menurutnya, ilmu pengetahuan, pola asuh, nilai budaya, hingga pilihan pasangan hidup turut membentuk siapa diri seseorang sebenarnya. Pemahaman itu menjadi semakin praktis ketika dikaitkan dengan empat tipe kepribadian manusia, yaitu sanguinis yang ceria, koleris yang tegas, plegmatis yang tenang, dan melankolis yang perfeksionis.

Setiap tipe kepribadian tersebut memiliki cara komunikasi dan pendekatan tersendiri yang perlu dikenali oleh setiap orang tua maupun pasangan. Dengan demikian, hubungan dalam keluarga dapat berjalan lebih harmonis.

Kemendukbangga/BKKBN mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk terus memperkuat kualitas hubungan antaranggota keluarga melalui komunikasi yang hangat, saling memahami karakter, dan menumbuhkan bahasa kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ajakan ini disampaikan dalam webinar bertajuk "Bahasa Kasih dalam Keluarga" yang digelar secara daring pada Jumat (12/6) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar