Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake

- Minggu, 11 Januari 2026 | 22:50 WIB
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake

Di sisi lain, langkah pemerintah ini mendapat dukungan dari pakar. Alfons Tanujaya dari Vaksincom menyebut Indonesia layak diapresiasi sebagai pelopor.

Bagi Alfons, ini soal prinsip. Platform global macam Grok tidak bisa seenaknya menerapkan standar tunggal untuk semua negara. Nilai-nilai moral tiap bangsa kan berbeda. Apa yang dianggap biasa di tempat lain, belum tentu cocok di sini. Ia membandingkan Grok dengan platform AI lain yang sudah memasang sistem pengamanan lebih ketat, sehingga tidak gampang disalahgunakan untuk hal-hal sensitif.

Namun begitu, pemutusan akses ini baru permulaan. Kemkominfo sudah memanggil X, platform induk Grok, untuk meminta pertanggungjawaban. Klarifikasi dan komitmen perbaikan sudah diminta. Masa depan Grok di Indonesia sekarang sepenuhnya tergantung pada keseriusan perusahaan itu memperbaiki diri, memasang pagar etika yang kuat, dan yang paling penting: menghormati hukum yang berlaku di sini.

Pada akhirnya, ini bukan cuma soal memblokir satu aplikasi chatbot. Ini adalah sinyal keras untuk seluruh industri teknologi di dunia. Inovasi yang liar dan tak terkendali oleh etika, tidak akan diterima. Di era di mana batas antara asli dan palsu semakin samar, Indonesia memilih untuk berdiri di depan. Menjadi benteng yang menolak diam ketika kecerdasan buatan berubah wujud menjadi alat kekejaman.

Ceritanya sederhana. Ini tentang sebuah bangsa yang tak mau warganya, terutama perempuan dan anak-anak, jadi kelinci percobaan untuk uji coba etika teknologi yang masih abu-abu. Tentang keberanian bilang ‘tidak’ pada raksasa teknologi, demi sesuatu yang jauh lebih berharga: martabat manusia. Yang, seharusnya, tak ternodai oleh algoritma secanggih apapun.


Halaman:

Komentar