Yordania Serang Basis ISIS di Suriah, Sementara Kurdi Dievakuasi dari Aleppo

- Minggu, 11 Januari 2026 | 22:12 WIB
Yordania Serang Basis ISIS di Suriah, Sementara Kurdi Dievakuasi dari Aleppo

Udara malam di perbatasan Suriah kembali pecah oleh dentuman. Sabtu (10/1) lalu, Angkatan Udara Yordania melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi Islamic State (ISIS) di dalam wilayah Suriah. Operasi ini, kata mereka, bagian dari upaya koalisi internasional pimpinan AS untuk menekan gerak-gerik kelompok ekstremis itu.

“Serangan tersebut dikoordinasikan dengan para mitra dalam kerangka koalisi internasional untuk menetralkan kemampuan kelompok teroris dan mencegah mereka melakukan konsolidasi ulang,”

begitu bunyi pernyataan resmi Angkatan Darat Yordania pada Minggu (11/1). Targetnya, menurut militer Yordania, adalah berbagai fasilitas ISIS yang tersebar di beberapa wilayah.

Sementara sorotan tertuju pada serangan udara itu, di Aleppo situasinya justru bergerak ke arah lain. Ratusan pejuang Kurdi akhirnya dievakuasi dari distrik Sheikh Maqsud. Wilayah itu, yang sempat jadi kantong pertahanan terakhir mereka di kota tersebut, sepenuhnya telah direbut oleh pasukan pemerintah.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Suriah, yang enggan disebut namanya, mengonfirmasi ke AFP. “Ada 360 pejuang, plus lebih dari 59 orang yang terluka, dipindahkan ke wilayah otonomi Kurdi di timur laut,” ujarnya.

Tapi evakuasi bukan satu-satunya cerita. Penahanan juga terjadi.

“Sebanyak 300 orang Kurdi lainnya, termasuk anggota pasukan keamanan, ditahan,”

tambah pejabat anonim itu. Malam sebelumnya, koresponden AFP melaporkan iring-iringan bus penuh pria meninggalkan Sheikh Maqsud dengan pengawalan ketat. Semua ini jadi penutup dari bentrokan sengit yang berakhir dengan gencatan senjata dan kesepakatan penarikan pasukan Kurdi.

Memang, ISIS sudah tak lagi punya ‘negara’ sejak kekalahan teritorialnya dulu. Tapi jangan salah, kelompok ini masih berkeliaran. Basis mereka sekarang berpindah ke gurun-gurun terpencil Suriah, terus mengintai dan sesekali melancarkan serangan.

Namun begitu, sikap Washington justru tampak berubah. Presiden Donald Trump selalu skeptis dengan keberadaan militer AS di sana. Rencana Pentagon untuk memangkas separuh pasukan AS di Suriah sepertinya mengarah ke situ. Bahkan, utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyebut akhirnya AS mungkin cuma akan pertahankan satu pangkalan saja di negara yang sudah porak-poranda ini.

Jadi, sementara koalisi terus membombardir sisa-sisa ISIS, dan pemerintah Suriah mengonsolidasi kekuasaannya, masa depan keterlibatan pihak asing justru dipertanyakan. Situasinya tetap rumit, dan panas.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar