Suasana di Grand Studio Metro TV, Kedoya, kemarin, cukup meriah. Di tengah para tokoh nasional dan eksekutif papan atas, sebuah penghargaan bergengsi berhasil dibawa pulang oleh Al Azhar Memorial Garden. Mereka dinobatkan sebagai "Best Islamic Memorial Garden and Spiritual Services 2026" dalam ajang Indonesia Top Achievements of the Year (ITAY). Prestasi nasional yang cukup membanggakan.
Penghargaan itu diterima langsung oleh Bapak Panca Putra, General Manager Business Development mereka. Acaranya sendiri dihadiri banyak orang penting. Mulai dari pimpinan lembaga negara, direksi BUMN dan BUMD, sampai para top eksekutif dari perusahaan swasta. Semua menyaksikan momen itu.
Bukan Sekadar Tempat Pemakaman Biasa
Lalu, apa sih yang membuat dewan juri memilih Al Azhar Memorial Garden? Ternyata, penilaiannya cukup komprehensif. Mereka melihat ada pendekatan unik yang berhasil memadukan nilai-nilai religius dengan layanan spiritual yang humanis. Tak cuma itu, tata kelola kawasannya juga dinilai profesional dan punya visi keberlanjutan yang jelas.
Menurut sejumlah saksi mata, suasana di tempat itu memang berbeda. Konsepnya sebagai Islamic Memorial Park tertata rapi, hijau, dan tentu saja sangat memperhatikan syariat. Mereka tak cuma jual tanah kuburan. Layanannya terpadu, dengan pendampingan yang empatik untuk keluarga yang berduka. Hal-hal kecil seperti tata letak dan arah kiblat yang presisi pun dijaga betul.
Rahasia Di Balik Keunggulan
Beberapa poin kunci menjadi alasan kemenangan mereka. Pertama, tentu saja konsep 'green memorial park' yang mereka usung. Kawasannya didominasi ruang terbuka hijau, bukan beton. Lalu ada sistem layanan pra-kebutuhan atau pre-need planning, yang membantu keluarga merencanakan segalanya dengan lebih bijak jauh hari sebelumnya.
Yang tak kalah penting adalah pendekatan edukatifnya. Mereka aktif menyosialisasikan adab pemakaman dan meningkatkan kesadaran spiritual masyarakat. Standar operasionalnya jelas, berbasis syariah, dan tata kelolanya patut diacungi jempol. Gabungan semua faktor inilah yang konon meningkatkan kepercayaan publik secara signifikan.
Suasana dan Sambutan Hangat di Acara Puncak
Acara ITAY 2026 sendiri dihadiri sederet nama besar. Mulai dari Kepala BRIN, Gubernur Lemhannas, sampai Ketua Dewan Pers. Dalam sambutan pembukaannya, Suryopratomo selaku Komisaris Metro TV menyoroti tema tahun ini.
"Tema ITAY tahun ini, 'Transformation for Reinventing Indonesia', menekankan bahwa transformasi tidak hanya dalam aspek ekonomi dan teknologi. Tapi juga pada layanan sosial dan spiritual yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat."
Pendapat serupa datang dari anggota dewan juri, Prof. Dr. Ricardi S. Adnan, M.Si. Ia melihat ada nilai lebih dari tempat ini.
"Al Azhar Memorial Garden berhasil memadukan nilai religius, tata kelola profesional, dan pendekatan lingkungan yang modern. Ini bukan sekadar tempat pemakaman, tetapi ruang spiritual yang terkelola dengan visi jangka panjang."
Founder ITAY, Arief Hidayat Thamrin, punya pandangan yang senada. Ia menekankan dampak sosial dari sebuah solusi.
"Penghargaan ini diberikan kepada institusi yang menghadirkan solusi berkelanjutan dengan dampak sosial nyata. Al Azhar Memorial Garden menunjukkan standar baru dalam layanan memorial Islami di Indonesia."
Penghargaan ini, di sisi lain, tentu bukan akhir dari perjalanan. Justru menjadi penanda bahwa integritas, pelayanan, dan komitmen pada nilai-nilai spiritual bisa mendapat tempat di panggung nasional. Sebuah pencapaian yang layak diapresiasi.
(SAW)
Artikel Terkait
Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin Lolos ke Final Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Sabar/Reza
Menteri Dalam Negeri Pakistan Tiba di Iran untuk Mediasi Perundingan AS-Iran
Kecelakaan Maut di Tol Pekanbaru-Dumai, Lima Tewas Usai Minibus Tabrak Dump Truk
Malom Minggu De Benuanta Disulap Jadi Panggung Kampanye Road to FIFA World Cup, Dorong UMKM dan Pariwisata Kaltara