Selain itu, kepekaan guru terhadap tanda-tanda non-akademik itu penting banget. Anak yang biasanya cerewet mendadak pendiam. Yang tiba-tiba bolos tanpa alasan jelas. Perubahan perilaku seperti itu seringkali adalah sinyal. Guru yang peka bisa menciptakan ruang aman bagi muridnya untuk sekadar bercerita. Empati itu sendiri sudah merupakan bentuk dukungan yang kuat.
Nah, sekolah juga harus punya sistem. Guru nggak bisa bekerja sendirian. Perlu ada kerja sama dengan konselor, wali kelas, dan tentu saja orang tua. Banyak orang tua yang nggak sadar anaknya sedang kesulitan. Komunikasi yang baik adalah kuncinya.
Memang, memberi perhatian ekstra itu melelahkan. Beban guru sudah seabreg. Tapi dampaknya, percayalah, sangat berarti. Lambat laun, murid yang tertinggal itu bisa mengejar. Mereka mulai berani angkat tangan. Percaya dirinya tumbuh. Dan saat mereka akhirnya paham suatu konsep yang sebelumnya gelap, kebanggaan di wajah mereka itu luar biasa menjadi bahan bakar untuk terus belajar.
Ini bukan cuma soal nilai rapor, lho. Lebih dari itu, ini soal membangun kepercayaan diri. Banyak anak yang sebenarnya punya potensi, tapi terkungkung dalam pikiran bahwa mereka “bodoh” atau “nggak bakal bisa”. Dukungan guru bisa mengikis persepsi negatif itu. Mereka butuh seseorang yang percaya bahwa mereka mampu.
Pada akhirnya, pendidikan yang adil bukan tentang memberi fasilitas yang sama persis ke semua orang. Tapi tentang memberi dukungan yang sesuai kebutuhan masing-masing. Anak yang cepat butuh tantangan lebih. Anak yang lambat butuh pendampingan ekstra. Keduanya penting.
Ini investasi jangka panjang. Anak-anak yang hari ini kurang menonjol, besok bisa jadi pribadi yang kompeten dan percaya diri. Asal kita tidak meninggalkan mereka. Masa depan mereka, dan kontribusinya bagi masyarakat, bisa dimulai dari perhatian kecil di kelas hari ini.
Guru yang baik itu bukan cuma yang bisa menerangkan materi dengan jelas. Tapi juga yang bisa melihat. Melihat siapa yang diam, siapa yang bingung, siapa yang butuh dicari. Di setiap kelas, selalu ada anak yang membutuhkan perhatian itu. Dan perubahan besar, seringkali berawal dari sana.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?
Ketika Musibah Datang, Inilah Kunci Menghadapinya Menurut Al-Quran dan Hadits