Cerita tentang murid berprestasi itu selalu menarik. Mereka dapat piala, diundang ke berbagai lomba, jadi kebanggaan sekolah. Memang, itu semua patut diapresiasi. Tapi, pernahkah kita memikirkan anak-anak yang justru tersisih di balik sorotan itu? Mereka yang nilainya biasa saja, atau bahkan sering tertinggal. Yang merasa canggung di kelas, kurang percaya diri, atau mungkin sedang berjuang menghadapi masalah di rumah.
Kelompok inilah, kalau kita perhatikan, yang sebenarnya paling butuh uluran tangan. Bukan berarti mereka tidak mampu. Seringkali, mereka cuma butuh pendekatan yang berbeda. Di sinilah peran guru jadi krusial bukan cuma sebagai pengajar, tapi juga sebagai pendamping.
Di setiap kelas, kondisinya selalu beragam. Ada yang cepat paham, ada yang biasa aja, dan ada yang benar-benar kesulitan. Murid yang kuat biasanya bisa mengikuti pelajaran dengan lancar. Mereka jarang minta diulang dan bisa belajar mandiri.
Namun begitu, ceritanya jadi lain untuk anak-anak yang lemah secara akademik. Mereka butuh bantuan yang lebih intens. Waktu ekstra. Pendekatan yang lebih personal. Tanpa itu, jurang antara mereka dan teman-temannya bakal makin lebar.
Masalahnya, banyak dari mereka ini memilih untuk diam. Malu bertanya, takut diketawain. Mereka duduk di bangku paling belakang, mengangguk-angguk padahal bingung. Secara fisik hadir, tapi pikiran entah ke mana. Kalau dibiarkan terus, bukan cuma nilainya yang jeblok, semangat belajarnya juga bisa padam sama sekali.
Dan jangan lupa, tantangannya nggak cuma soal pelajaran. Banyak anak yang berjuang dengan masalah di luar sekolah. Keluarga yang nggak harmonis, tekanan ekonomi, atau lingkungan yang nggak mendukung. Pikiran mereka penuh dengan beban itu, sehingga sulit fokus pada penjelasan guru di papan tulis. Mereka terpaksa dewasa sebelum waktunya.
Di titik inilah, perhatian seorang guru bisa mengubah segalanya. Cukup dengan menanyakan, “Sudah paham, atau mau diulang lagi pelan-pelan?” Lalu menyediakan waktu untuk mereka. Ketika seorang anak yang selalu diam itu merasa ‘dilihat’, rasanya seperti dapat angin segar. Mereka merasa tidak sendirian.
Guru nggak perlu melakukan hal-hal yang muluk-muluk. Strategi sederhana seringkali cukup efektif. Misalnya, bikin kelompok belajar kecil. Pakai alat peraga atau gambar. Atau, cuma meluangkan waktu sepuluh menit usai jam pelajaran untuk menjawab pertanyaan. Hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten ini bisa menutup celah pemahaman yang selama ini bikin mereka tertinggal.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?
Ketika Musibah Datang, Inilah Kunci Menghadapinya Menurut Al-Quran dan Hadits