Dalam hal kebijakan, perbedaannya semakin kentara. Elite lebih fokus pada isu-isu besar seperti kedaulatan geopolitik, keadilan lingkungan, dan reformasi birokrasi.
Sementara, perhatian non-elite tertuju pada hal-hal yang langsung menyentuh hidup mereka: pungutan liar di birokrasi, kelancaran BPJS, harga pangan murah, dan bantuan sosial. Isu Palestina tetap ada, tapi pemahamannya lebih terbatas. Meski berbeda, kedua kelompok sepakat soal pentingnya pemerataan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Menyoroti temuan ini, Rektor Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, menyebut ada empat kriteria yang selalu konsisten dicari publik: integritas, kompetensi, sikap inspiratif, dan visi yang luas.
"Lingkungan yang diurus semakin kompleks, maka integritas yang dibutuhkan juga harus semakin tinggi. Riset ini seolah menjadi justifikasi dari pernyataan itu," kata Sudirman.
Ia menganggap wajar saja jika kemudian persepsi antara elite dan non-elite berbeda. "Itu hal yang manusiawi. Kelompok elite fokus pada hulu, seperti tata kelola pemerintahan. Sedangkan non-elite fokus pada hilir, hal-hal yang nyata dan langsung mereka hadapi," jelasnya.
Pendapat senada datang dari Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari. Menurutnya, hasil riset KedaiKOPI ini pada prinsipnya tidak banyak berubah dari dulu hingga sekarang.
"Banyak hal dalam riset ini sebenarnya menjelaskan harapan publik yang sudah lama ada. Kriteria yang disebutkan seakan memvalidasi keinginan masyarakat akan sosok pemimpin yang mereka dambakan sejak lama," ujar Feri.
Sementara dari kacamata ekonomi, Talitha Chairunissa dari Aliansi Ekonom Indonesia menyoroti satu hal. Masyarakat Indonesia, katanya, sangat menghargai ketegasan dan kecepatan bertindak seorang pemimpin.
"Ketegasan masih dianggap sebagai hal yang sangat penting bagi pemilih di Indonesia. Masyarakat kita memang cenderung menyukai pemimpin yang tegas," pungkas Talitha.
Riset ini, pada akhirnya, seperti cermin yang memantulkan dua realita yang hidup berdampingan. Harapan terhadap seorang pemimpin ternyata sangat ditentukan oleh posisi dan pengalaman hidup seseorang.
Artikel Terkait
Buku Gibran End Game Diserahkan ke Kemdikbud, Klaim Wapres Tak Punya Ijazah SMA
Netanyahu Buka Peluang Kemitraan dengan Iran Pasca-Rezim Saat Ini
Travelator YIA Mati Suri, Diduga Demi Lariskan Warung UMKM
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara