Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:40 WIB
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem

Kini, saat ekonomi Iran tercekik sanksi Barat, suara-suara lama itu kembali muncul ke permukaan. Memang Iran sudah beberapa kali dilanda protes. Tapi kali ini skalanya lebih besar dan tantangannya lebih terbuka. Salah satu pemicunya adalah Perang Iran-Israel tahun lalu, yang sedikit banyak mengungkap kelemahan pemerintah.

Pendukung rezim mungkin bilang Iran tetap perkasa karena bisa membalas serangan. Tapi perang itu justru mengikis persepsi publik tentang kekuatan Republik Islam.

Ditambah lagi, Trump sempat mengancam akan ikut campur jika pemerintah Iran bertindak keras terhadap demonstran. Semua ini bukan kebetulan. Media AS dan Israel aktif membangun narasi "pembebasan Iran", sambil mempromosikan Reza Pahlavi putra mantan Shah sebagai calon pemimpin baru.

Hubungan dengan Israel memang jadi salah satu titik balik penting. Dulu, di era Pahlavi, Iran bersahabat dengan Israel. Bahkan, Iran dan Turki adalah dua negara mayoritas Muslim pertama yang menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Saat dunia Arab bersatu melawan Israel tahun 1950-an hingga 1970-an, Israel banyak mengandalkan Iran dan Turki untuk menyeimbangkan tekanan regional.

Tapi revolusi 1979 mengubah segalanya. Khomeini membawa kebijakan anti-Israel, dan sejak itu Iran jadi ancaman utama bagi kepentingan strategis Israel di Timur Tengah.

Bagi AS, Iran adalah sekutu penting bagi China dan Rusia. Melemahkan Iran berarti mengurangi pengaruh kedua rival itu. Tapi, menjatuhkan Iran lewat perang terbuka bukan perkara mudah. Iran negara besar, dengan ibu kota yang letaknya jauh dari pantai. Tidak semudah Venezuela, misalnya. Maka, tekanan dari dalam negeri jadi pilihan yang lebih realistis.

Lihat saja Elon Musk, sibuk mengubah bendera Iran di X (Twitter) jadi bendera era Pahlavi. Jelas sekali ada permainan di sini.

Apakah Iran benar-benar menuju kehancuran? Kita lihat saja nanti. Saya sendiri sedang menyesuaikan naskah GEOPOLITIK DUNIA ISLAM, untuk memperhitungkan dampak geopolitik jika Republik Islam Iran ternyata tak bertahan.

Sementara itu, untuk memahami permainan kekuatan antara AS dan China-Rusia dan di mana posisi Iran di papan catur ini Anda bisa baca buku ADIKUASA.

(fb penulis)


Halaman:

Komentar