Maka, ia menegaskan, kepedulian kita tak boleh berhenti. Malah harus ditingkatkan.
Baginya, isu Palestina ini harus terus hidup dalam pembicaraan. Kelengahan sedikit saja bisa membuat posisi kaum Muslimin terpuruk lagi. Gencatan senjata yang sekarang terjadi? Itu bukan akhir konflik. Justru, kata Babah Chaerul, itu hanya jeda bagi lawan untuk mengisi ulang kekuatan sebelum serangan berikutnya yang mungkin lebih dahsyat.
Namun begitu, perhatian tak hanya harus tertuju ke luar. Babah Chaerul juga mengajak jamaahnya untuk peduli pada bencana alam di dalam negeri. Khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya dahsyat, meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional.
Nasihatnya sederhana, tapi terasa mendalam. Di tengah dunia yang bergejolak, solidaritas dan kepedulian adalah benteng terakhir.
Artikel Terkait
DPR Klaim Pasal Penghinaan di KUHP Bukan untuk Membungkam Kritik
Guru Temukan Kamera Tersembunyi di Toilet Wanita Pantai Seruni, Pelaku Petani Rumput Laut Ditangkap
Presiden Prabowo Tiba di Moskow, Segera Temui Putin untuk Perkuat Kerja Sama Bilateral
Mahasiswa Calon Pastor Hilang Tenggelam di Danau Toba, Pencarian Berlanjut