Bagi banyak anak, sekolah adalah hal biasa. Tapi bagi sebagian lainnya, ini adalah peluang yang bisa mengubah hidup mereka. Sebuah kesempatan yang nyaris tak terjangkau.
Nayla, siswi kelas VII di sebuah Sekolah Rakyat di Makassar, tahu betul rasanya. Gadis itu masih ingat bayangan putus sekolah yang dulu terus menghantuinya. Latar belakang keluarganya sederhana: ayahnya kuli bangunan, ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Biaya pendidikan? Itu beban yang terasa amat berat.
“Dulu itu dikira aku enggak bisa sekolah, apalagi enggak bisa lanjut bersekolah. Tapi adanya Sekolah Rakyat saya bisa sekolah dan bisa membanggakan orang tua,”
ujar Nayla, ditemui di Sekolah Rakyat Terpadu di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, suatu Minggu.
Ancaman berhenti sekolah karena urusan biaya akhirnya sirna. Sekarang, di sekolah asrama ini, semua kebutuhan pendidikannya ditanggung negara lewat Kementerian Sosial. Rasanya lega sekali. “Senangnya punya banyak teman baru, dapat fasilitas lengkap. Seperti baju, kalau di sekolah itu peralatannya dapat buku, pulpen, pensil warna, laptop,” tuturnya dengan semangat.
Lebih dari sekadar pelajaran biasa, Nayla bahkan bisa ikut les Bahasa Inggris dan piano. Hal-hal yang dulu cuma ada dalam angan-angan. Kepercayaan dirinya meroket. Dan kini, ia punya impian yang jelas: ingin menjadi seorang polwan. “Supaya bisa menangkap orang jahat,” katanya, sambil tersenyum lebar.
Dari Buta Aksara, Kini Siap Baca Puisi untuk Presiden
Lain lagi cerita Muhammad Nazril Kurniawan. Siswa kelas I SMA di Sekolah Rakyat Bekasi ini menghadapi kendala ganda. Selain soal biaya, kemampuan membacanya pun dulu sangat terbatas.
“Kalau di sekolah sebelumnya itu kayak susah, terus enggak ada lesnya, terus saya kayak kesulitan buat baca. Terus teman-teman saya juga masih belum tahu saya belum bisa baca. Terus pas sudah lulusnya baru tahu dia,”
cerita Nazril, mengenang masa-masa sulitnya.
Namun begitu, lingkungan di Sekolah Rakyat rupanya berbeda. Sekolah ini memang dirancang untuk anak-anak dari keluarga paling membutuhkan. Di sini, Nazril menemukan dukungan yang ia perlukan.
“Ada teman saya selalu membimbing saya untuk membaca. Terus malam-malam itu belajar membaca di kamar, selalu membantu saya di kamar,”
katanya.
Perlahan tapi pasti, kemampuannya membaik. Bahkan, cita-citanya kini mengarah ke dunia usaha: ia ingin jadi pengusaha.
Dan yang tak disangka, Nazril mendapat kepercayaan besar. Dalam acara peresmian program Sekolah Rakyat yang rencananya dihadiri Presiden Prabowo Subianto, ia akan membacakan sebuah puisi. Tentu saja ini membuatnya grogi.
“Puisinya kan enggak terlalu banyak. Terus saya hafalin terus, udah beberapa bulan. Teksnya kan diubah-ubah terus, diganti-ganti. Nah, saya takut lupa teksnya dari mana. Jadi, saya hafalin lagi,”
tutupnya, menggambarkan usaha kerasnya untuk tampil sempurna di momen bersejarah itu.
Artikel Terkait
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang