Gus Umar Serukan Mundur, Ketum PBNU Didesak Bertanggungjawab Atas Polemik Tambang dan Kasus Adiknya

- Minggu, 11 Januari 2026 | 12:00 WIB
Gus Umar Serukan Mundur, Ketum PBNU Didesak Bertanggungjawab Atas Polemik Tambang dan Kasus Adiknya

Gus Umar Desak Yahya Cholil Staquf Mundur dari Ketum PBNU, Singgung Polemik Tambang dan Kasus Kuota Haji

Suara keras datang dari kalangan internal Nahdlatul Ulama. Kali ini, aktivis NU Umar Hasibuan yang akrab disapa Gus Umar melayangkan kritik pedas kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Intinya sederhana tapi berat: dia minta Gus Yahya mundur dari jabatannya. Desakan ini muncul di tengah dua isu yang sedang panas: keterlibatan PBNU dalam urusan pertambangan dan kasus kuota haji yang menjerat adik kandungnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Lewat unggahan di media sosial, Gus Umar tak tanggung-tanggung. Dia bilang kepemimpinan Yahya Cholil Staquf sudah mencederai marwah organisasi. NU, dalam pandangannya, harusnya jadi penjaga moral bangsa. Bukan malah terlibat dalam pusaran kepentingan ekonomi dan kekuasaan yang kerap bau-bau politik.

“PBNU hari ini sibuk mengurusi tambang. Ini sangat jauh dari khittah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah,”

Begitu tulis Gus Umar dalam pernyataannya yang ramai beredar pada Ahad lalu. Rasanya, bagi dia, organisasi sebesar NU kok jadi ikut-ikutan urusan yang bukan ranahnya.

Belum lagi soal kasus lain yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi. Yaqut Cholil Qoumas, adik kandung sang ketum, sedang berada di sorotan terkait pengelolaan kuota haji. Gus Umar tak sungkan menyentil persoalan ini. Menurutnya, kasus semacam ini sudah mencoreng nama baik NU di mata umat.

“Ini memalukan bagi warga NU. Bagaimana mau mendidik nahdliyin, kalau adik sendiri terseret persoalan serius dan tidak bisa diberi teladan?”

Ya, dia mengakui bahwa secara hukum tanggung jawabnya memang personal. Tapi secara etik? Itu cerita lain. Posisi ketua umum di organisasi seperti NU menuntut keteladanan yang lebih tinggi, tak hanya untuk diri sendiri tapi juga keluarga terdekat.

“Seharusnya Bung Yahya legowo dan mundur demi menjaga kehormatan NU,” tegas Gus Umar lagi.

Nah, sampai berita ini dibuat, belum ada tanggapan resmi dari PBNU maupun dari Yahya Cholil Staquf sendiri. Mereka masih bungkam. Sementara itu, dua isu tadi tambang dan kuota haji terus menggelinding jadi perbincangan hangat, baik di kalangan warga NU maupun publik luas.

Di sisi lain, banyak yang mulai khawatir. Sejumlah pengamat dan kiai mengingatkan agar NU tidak terus terseret ke dalam konflik politik dan ekonomi. Kalau dibiarkan, kepercayaan jamaah terhadap ulama dan institusi keagamaan bisa tergerus perlahan. Situasinya memang rumit, dan semua mata kini tertuju ke sikap yang akan diambil oleh sang ketum.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar