Ya, dia mengakui bahwa secara hukum tanggung jawabnya memang personal. Tapi secara etik? Itu cerita lain. Posisi ketua umum di organisasi seperti NU menuntut keteladanan yang lebih tinggi, tak hanya untuk diri sendiri tapi juga keluarga terdekat.
“Seharusnya Bung Yahya legowo dan mundur demi menjaga kehormatan NU,” tegas Gus Umar lagi.
Nah, sampai berita ini dibuat, belum ada tanggapan resmi dari PBNU maupun dari Yahya Cholil Staquf sendiri. Mereka masih bungkam. Sementara itu, dua isu tadi tambang dan kuota haji terus menggelinding jadi perbincangan hangat, baik di kalangan warga NU maupun publik luas.
Di sisi lain, banyak yang mulai khawatir. Sejumlah pengamat dan kiai mengingatkan agar NU tidak terus terseret ke dalam konflik politik dan ekonomi. Kalau dibiarkan, kepercayaan jamaah terhadap ulama dan institusi keagamaan bisa tergerus perlahan. Situasinya memang rumit, dan semua mata kini tertuju ke sikap yang akan diambil oleh sang ketum.
Artikel Terkait
Travelator YIA Mati Suri, Diduga Demi Lariskan Warung UMKM
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara
Jalan Tol Menuju IKN Ambruk, Diduga Akibat Hujan Deras dan Pergerakan Tanah
Dunia Waspada: Langkah Trump ke Venezuela Buka Luka Lama Pengaruh Global AS