Peluang besar terbuka lebar bagi Indonesia di panggung industri semikonduktor global. Hal ini disampaikan Adhamaski Pangeran, peneliti dari GREAT Institute, dalam sebuah konferensi pers bertajuk Outlook Economic 2026, Sabtu lalu. Menurutnya, gelombang investasi global sedang mengalami pergeseran yang signifikan.
“Investasi di industri semikonduktor melonjak luar biasa, hingga 140 persen di tahun 2024,” ujar Adhamaski. Ia membandingkannya dengan sektor digital economy yang tumbuh 107 persen, sementara investasi di bidang ekstraktif justru mengalami penurunan sekitar 5 persen.
Perubahan tren ini tak lepas dari dinamika geopolitik dunia saat ini. “Sekarang ini, persaingan geoekonomi dan geopolitik sangat memanas, terutama dalam memperebutkan rare earth atau mineral tanah jarang,” jelasnya. Material itulah yang menjadi bahan baku krusial dalam pembuatan semikonduktor.
Faktanya, semikonduktor adalah nyawa bagi beragam produk teknologi masa kini. Dari ponsel pintar, televisi, hingga kendaraan listrik yang semakin marak. Persaingan pun semakin sengit. Ambil contoh Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden, yang merancang kebijakan industri khusus untuk menarik kembali pabrik-pabrik semikonduktor dari Taiwan dan Belanda.
Lalu, di mana posisi Indonesia dalam perlombaan ketat ini? Menurut Adhamaski, setidaknya ada dua keunggulan yang bisa diandalkan. Pertama, tentu saja kekayaan alam berupa mineral kritis dan tanah jarang yang melimpah. Itu adalah modal dasar yang sangat berharga. Kedua, Indonesia punya sumber daya manusia yang mumpuni, banyak insinyur dan ilmuwan yang telah lama menekuni penelitian di bidang teknologi semikonduktor.
Artikel Terkait
Dunia Waspada: Langkah Trump ke Venezuela Buka Luka Lama Pengaruh Global AS
Trump Beri Ultimatum ke Kuba: Buat Kesepakatan, atau Hadapi Konsekuensi
Iran: Ratusan Ambulans Hancur, Kerugian Capai Jutaan Dolar
Jalur Peureulak-Lokop Kembali Dibuka, Akses Darurat Pulih Setelah Banjir Bandang