Nah, kalau kita tilik dari kacamata sekarang, aspek Isra’-nya mungkin tak lagi jadi teka-teki. Jarak Makkah-Yerusalem bisa ditempuh pesawat dalam hitungan jam. Tapi itu sama sekali tidak menjawab misteri Mi’raj. Bagaimana waktu berperan ketika Nabi ﷺ melampaui langit pertama, terus naik hingga Sidratul Muntaha?
Al-Qur’an menyebut benda langit yang kita lihat ada di langit pertama. Sementara langit itu sendiri berlapis tujuh. Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan ‘Arsy berada di tingkatan yang lebih tinggi lagi. Jelas, Mi’raj membawa Nabi memasuki wilayah di mana patokan waktu manusia sudah tak berlaku.
Di sinilah fisika modern punya cerita menarik. Konsep dilasi waktu dalam Teori Relativitas Einstein menyatakan waktu bisa melambat bagi benda yang bergerak sangat cepat. Contoh populer ada di film Interstellar. Sang ayah yang menjelajah luar angkasa kembali ke Bumi dan lebih muda daripada anaknya sendiri, Murph. Perbedaan medan gravitasi dan kecepatan menyebabkan waktu berjalan beda. Fenomena ini membuktikan waktu bukanlah sesuatu yang mutlak.
Tapi, justru di titik inilah Mi’raj menunjukkan keunikan yang tak terjelaskan.
Dalam dilasi waktu fisika, pasti ada konsekuensi biologis dan temporal. Namun, setelah menjalani perjalanan yang jika dihitung secara kosmik bisa mencapai triliunan tahun cahaya, Rasulullah ﷺ kembali tanpa perubahan usia. Tak ada paradoks waktu, tak ada keretakan sejarah. Beliau pulang dalam rentang yang singkat saja. Ini menunjukkan Mi’raj bukan sekadar soal kecepatan atau jarak ekstrem. Ini lebih radikal: sebuah pembebasan dari hukum waktu itu sendiri, karena yang menggerakkan adalah kehendak Ilahi secara langsung.
Jadi, Isra’ Mi’raj pada hakikatnya adalah peristiwa yang meniadakan waktu sebagai ukuran absolut. Di sini batas sains modern ditegaskan, bukan untuk ditolak, melainkan untuk dilihat proporsinya. Dan puncak dari semua ini bukanlah tontonan kosmik spektakuler.
Puncaknya adalah turunnya perintah Shalat sebuah ibadah yang justru mengikat manusia kembali pada ritme waktu harian. Sungguh sebuah paradoks yang indah. Dari Mi’raj yang melampaui waktu, kita diturunkan kembali ke bumi dengan kewajiban untuk mengingat Allah di dalam dan melalui waktu.
Shadaqallahul ‘azhim.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah