Kalau Anda melihat saham MAHA melesat di papan bursa, mungkin bertanya-tanya: sebenarnya perusahaan ini bergerak di bidang apa, sih? Jawabannya, PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk adalah pemain di sektor energi, tepatnya jasa penunjang untuk pertambangan batu bara. Intinya, mereka yang mengangkut batu bara dari lokasi tambang.
Perusahaan ini bukan pendatang baru. Berdiri sejak 1994, awal mulanya MAHA fokus menyediakan jasa transportasi untuk hasil tambang di wilayah Kalimantan. Menurut informasi dari laman resmi mereka, bisnisnya kini didukung armada yang cukup lengkap. Mulai dari dump truck hingga trailer ganda, dengan kapasitas muatan yang disesuaikan kebutuhan klien.
Layanannya sendiri cukup komprehensif. Mereka menangani proses mulai dari pengangkutan batu bara begitu keluar dari area penambangan, pengantaran ke tempat penumpukan atau stockpile, hingga pemuatan akhir ke dermaga untuk dimuat ke tongkang. Tak cuma itu, MAHA juga menyediakan jasa perawatan jalan. Wilayah kerjanya mencakup tiga provinsi: Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah, dengan tujuh proyek pengangkutan aktif saat ini.
Klien-kliennya pun nama-nama besar. Beberapa perusahaan tambang yang memakai jasanya antara lain PT Kideco Jaya Agung, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Pamapersada Nusantara.
Ngomong-ngomong soal Pamapersada, mereka justru menjadi klien pertama MAHA usai perusahaan berdiri. Kemudian, di tahun 2000, MAHA berhasil mengamankan kontrak penting dari Kideco untuk pekerjaan hauling batu bara di Kabupaten Paser.
Baru tahun lalu, tepatnya 2023, MAHA memutuskan go public. Mereka melepas 4,16 miliar saham dengan harga penawaran Rp118 per lembar. Hasilnya? Dana segar yang terkumpul mencapai Rp491 miliar.
Lalu, siapa yang mengendalikan saham emiten ini?
Berdasarkan laporan bulanan per 30 November 2025, pengendali utamanya adalah PT Edika Agung Mandiri. Mereka memegang 5,75 miliar saham atau setara 34,5% dari total.
Berikut daftar pemegang saham mayoritas lainnya saat itu:
Yenny Hamidah: 8,01%
Diah Asriningpuri: 7,72%
Eka Rosita Kasih: 7,5%
Arief Sugianto: 7,5%
Handy Glivirgo: 4,11%
Muhammad Akbar: 3,75%
Herman Kusnanto: 3%
Sisanya, sekitar 22,28%, dipegang oleh publik. Penerima manfaat akhir atau pemilik perusahaan ini adalah Eddy Sugianto.
Performa sahamnya sendiri cukup menarik. Pada perdagangan Rabu, 10 Desember 2025, MAHA ditutup di level Rp196 per saham, menguat 1,55%. Yang lebih mencengangkan, dalam sebulan terakhir, harganya sudah melonjak hampir 40%.
Jadi, begitulah profil singkat MAHA. Sebuah perusahaan jasa logistik tambang yang sudah punya track record puluhan tahun dan kini sedang menjadi perhatian pasar.
Artikel Terkait
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020
Wall Street Mixed di Akhir April, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020
Pendapatan Bakrie & Brothers Tembus Rp1,13 Triliun di Kuartal I-2026, EBITDA Melonjak 252 Persen