Isra Miraj: Saat Waktu Tak Lagi Jadi Patokan

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:50 WIB
Isra Miraj: Saat Waktu Tak Lagi Jadi Patokan

Isra’ Mi’raj dan Misteri Waktu yang Melentur

Ketika Ukuran Mutlak Itu Tak Lagi Berlaku

Oleh: Alen Y. Sinaro
Sekjen Himpunan Astronomer Amatir Jakarta (HAAJ), 1994-1999

Kosmologi modern sudah mengubah banyak hal. Ia mengajarkan bahwa waktu itu relatif, bergantung pada gerak dan gravitasi. Tapi, jauh sebelum Einstein merumuskan teorinya, ada sebuah peristiwa yang justru mengajukan pertanyaan lebih dalam. Isra’ Mi’raj. Bukan cuma soal ruang, tapi tentang apa jadinya bila waktu sendiri berhenti jadi patokan. Di sini, kita bukan sedang mencocok-cocokkan sains dengan wahyu. Justru sebaliknya, peristiwa ini seperti cermin yang menunjukkan batas-batas ilmu fisika kita. Pada akhirnya, yang tersisa adalah kesadaran akan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.

Isra’ Mi’raj itu fondasi. Peristiwanya begitu mendasar dalam sejarah kenabian Muhammad ﷺ. Bukan cuma karena jarak yang ditempuh, tapi lebih pada goncangannya terhadap konsep waktu yang kita pahami.

Al-Qur’an sudah memberi isyarat kuat. Dalam Surah Al-Isra’ ayat 1, digunakan kata kerja asrā yang berarti ‘diperjalankan’. Ini poin krusial. Rasulullah ﷺ bukan melakukan perjalanan atas kemauan sendiri, melainkan diperjalankan oleh Allah. Dari awal, bahasa wahyu ini sudah menempatkan peristiwa itu di luar logika kausalitas fisika duniawi, termasuk di luar pemahaman kita tentang ruang dan waktu.

Lalu, bagaimana hakikat perjalanan itu? Benarkah jasmaniah?

Hadits shahih riwayat Muslim dari Anas bin Malik menegaskannya. Yang diperjalankan adalah ruh dan jasad Rasulullah ﷺ secara bersamaan. Kesaksian ini diterima oleh para sahabat utama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab. Ulama kontemporer semacam Buya Hamka juga menegaskan hal serupa. Jadi, ini bukan mimpi atau pengalaman simbolis belaka. Ini peristiwa nyata yang melibatkan keseluruhan diri manusia.

Nah, kalau kita tilik dari kacamata sekarang, aspek Isra’-nya mungkin tak lagi jadi teka-teki. Jarak Makkah-Yerusalem bisa ditempuh pesawat dalam hitungan jam. Tapi itu sama sekali tidak menjawab misteri Mi’raj. Bagaimana waktu berperan ketika Nabi ﷺ melampaui langit pertama, terus naik hingga Sidratul Muntaha?

Al-Qur’an menyebut benda langit yang kita lihat ada di langit pertama. Sementara langit itu sendiri berlapis tujuh. Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan ‘Arsy berada di tingkatan yang lebih tinggi lagi. Jelas, Mi’raj membawa Nabi memasuki wilayah di mana patokan waktu manusia sudah tak berlaku.

Di sinilah fisika modern punya cerita menarik. Konsep dilasi waktu dalam Teori Relativitas Einstein menyatakan waktu bisa melambat bagi benda yang bergerak sangat cepat. Contoh populer ada di film Interstellar. Sang ayah yang menjelajah luar angkasa kembali ke Bumi dan lebih muda daripada anaknya sendiri, Murph. Perbedaan medan gravitasi dan kecepatan menyebabkan waktu berjalan beda. Fenomena ini membuktikan waktu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Tapi, justru di titik inilah Mi’raj menunjukkan keunikan yang tak terjelaskan.

Dalam dilasi waktu fisika, pasti ada konsekuensi biologis dan temporal. Namun, setelah menjalani perjalanan yang jika dihitung secara kosmik bisa mencapai triliunan tahun cahaya, Rasulullah ﷺ kembali tanpa perubahan usia. Tak ada paradoks waktu, tak ada keretakan sejarah. Beliau pulang dalam rentang yang singkat saja. Ini menunjukkan Mi’raj bukan sekadar soal kecepatan atau jarak ekstrem. Ini lebih radikal: sebuah pembebasan dari hukum waktu itu sendiri, karena yang menggerakkan adalah kehendak Ilahi secara langsung.

Jadi, Isra’ Mi’raj pada hakikatnya adalah peristiwa yang meniadakan waktu sebagai ukuran absolut. Di sini batas sains modern ditegaskan, bukan untuk ditolak, melainkan untuk dilihat proporsinya. Dan puncak dari semua ini bukanlah tontonan kosmik spektakuler.

Puncaknya adalah turunnya perintah Shalat sebuah ibadah yang justru mengikat manusia kembali pada ritme waktu harian. Sungguh sebuah paradoks yang indah. Dari Mi’raj yang melampaui waktu, kita diturunkan kembali ke bumi dengan kewajiban untuk mengingat Allah di dalam dan melalui waktu.

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Shadaqallahul ‘azhim.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar