Isra’ Mi’raj dan Misteri Waktu yang Melentur
Ketika Ukuran Mutlak Itu Tak Lagi Berlaku
Oleh: Alen Y. Sinaro
Sekjen Himpunan Astronomer Amatir Jakarta (HAAJ), 1994-1999
Kosmologi modern sudah mengubah banyak hal. Ia mengajarkan bahwa waktu itu relatif, bergantung pada gerak dan gravitasi. Tapi, jauh sebelum Einstein merumuskan teorinya, ada sebuah peristiwa yang justru mengajukan pertanyaan lebih dalam. Isra’ Mi’raj. Bukan cuma soal ruang, tapi tentang apa jadinya bila waktu sendiri berhenti jadi patokan. Di sini, kita bukan sedang mencocok-cocokkan sains dengan wahyu. Justru sebaliknya, peristiwa ini seperti cermin yang menunjukkan batas-batas ilmu fisika kita. Pada akhirnya, yang tersisa adalah kesadaran akan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Isra’ Mi’raj itu fondasi. Peristiwanya begitu mendasar dalam sejarah kenabian Muhammad ﷺ. Bukan cuma karena jarak yang ditempuh, tapi lebih pada goncangannya terhadap konsep waktu yang kita pahami.
Al-Qur’an sudah memberi isyarat kuat. Dalam Surah Al-Isra’ ayat 1, digunakan kata kerja asrā yang berarti ‘diperjalankan’. Ini poin krusial. Rasulullah ﷺ bukan melakukan perjalanan atas kemauan sendiri, melainkan diperjalankan oleh Allah. Dari awal, bahasa wahyu ini sudah menempatkan peristiwa itu di luar logika kausalitas fisika duniawi, termasuk di luar pemahaman kita tentang ruang dan waktu.
Lalu, bagaimana hakikat perjalanan itu? Benarkah jasmaniah?
Hadits shahih riwayat Muslim dari Anas bin Malik menegaskannya. Yang diperjalankan adalah ruh dan jasad Rasulullah ﷺ secara bersamaan. Kesaksian ini diterima oleh para sahabat utama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab. Ulama kontemporer semacam Buya Hamka juga menegaskan hal serupa. Jadi, ini bukan mimpi atau pengalaman simbolis belaka. Ini peristiwa nyata yang melibatkan keseluruhan diri manusia.
Artikel Terkait
Iran Bergolak: Zionis Dituding Dalangi Gelombang Teror dan Pembakaran Tempat Ibadah
Demokrasi di Era Kebisingan: Ketika Politik Indonesia Hanya Jadi Tontonan
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh