✍🏻 Heri Latief
Menurut saya, inilah yang membedakan kasus Pak Yaqut dengan kasus-kasus lain seperti Ira atau Tom Lembong maupun Nadiem. Intinya, ada dua hal utama yang menurut saya jadi pokok persoalan.
Pertama, ini bukan sekadar kebijakan bisnis biasa. Ini soal pengubahan kuota haji yang justru melawan UU yang sudah ada. Dasarnya cuma SK Menteri, yang tentu saja levelnya jauh di bawah undang-undang. Apapun alasan di baliknya katakanlah karena tenda Armuzna reguler sudah penuh tetap saja ada harga mahal yang harus dibayar: perasaan 8.000 jamaah yang haknya tiba-tiba diambil.
Memang, tendanya penuh. Tapi apakah benar-benar tidak ada celah untuk menampung? Apa risikonya kalau dipaksakan? Ini seharusnya jadi bahan diskusi banyak pihak, bukan keputusan sepihak. Sayangnya, langkah heroiknya justru bertaruh melawan hukum dan mengabaikan ribuan orang. Gagasan mungkin bagus, tapi eksekusinya keliru dan dampaknya fatal.
Kedua, muncul fakta adanya suap. Travel haji khusus disebut-sebut membayar sejumlah oknum.
Artikel Terkait
Janji Motor Tak Ditepati, Anak Tusuk Ayah hingga Tewas di Bulukumba
Gen Halal Championship 2025 Cetak 45 Finalis, Bukti Gaya Hidup Halal Kian Digandrungi Pelajar
Heboh Video 1 Menit 50 Detik, Teh Pucuk Harum Jadi Misteri yang Picu Bahaya Phising
Parlemen Iran Ancam AS dan Israel Jadi Sasaran Balasan Militer