Ahli IPB: Limbah Cair Sawit Bisa Kurangi Ketergantungan Impor Pupuk

- Minggu, 12 April 2026 | 17:00 WIB
Ahli IPB: Limbah Cair Sawit Bisa Kurangi Ketergantungan Impor Pupuk

Limbah pabrik kelapa sawit? Selama ini mungkin cuma dipandang sebagai masalah yang harus dibuang. Tapi tunggu dulu. Seorang pakar justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda sama sekali. Menurut Basuki Sumawinata, ahli ilmu tanah dari IPB University, limbah cair kelapa sawit atau LCPKS itu sebenarnya menyimpan potensi luar biasa. Bukan sampah, melainkan sumber nutrisi strategis yang bisa menyokong sektor pertanian kita.

“Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, limbah tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor,” ujar Basuki.

Pernyataannya ini bukan tanpa dasar. Bayangkan, Indonesia setiap tahunnya memproduksi sekitar 50 juta ton minyak sawit. Dari proses itu, dihasilkan limbah cair yang volumenya jauh lebih besar: kurang lebih 100 juta ton. Limbah dalam jumlah raksasa itu mengandung nilai BOD (Biological Oxygen Demand) rata-rata 25.000 ppm. Di dalamnya, tersimpan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, kalium, hingga berbagai unsur mikro yang sangat dibutuhkan tanaman.

“Ini adalah sumber nutrisi alami yang nilainya sangat besar bagi kebun sawit,” katanya menegaskan.

Lebih Dari Sekadar Nutrisi: Menjaga Tanah Tetap Hidup

Di sisi lain, manfaat LCPKS ternyata melampaui sekadar penyediaan makanan untuk tanaman. Kandungan bahan organiknya yang tinggi menjadikannya sumber karbon organik utama bagi tanah. Tanpa suplai bahan organik yang cukup, produktivitas tanah lambat laun akan merosot. Akibatnya, ketergantungan pada pupuk kimia sintetis pun makin menjadi-jadi. Nah, di sinilah letak kunci utamanya. Pengembalian nutrisi organik ke lahan dinilai bisa menjaga keberlanjutan produksi perkebunan untuk jangka panjang.

Namun begitu, Basuki mengkritik keras kebijakan yang ada saat ini. Ia menyoroti aturan yang mendorong pengolahan LCPKS hingga mencapai BOD sangat rendah, misalnya di bawah 100 mg/l. Menurutnya, pendekatan seperti itu justru kontra-produktif. “Langit itu menghilangkan kandungan karbon organik yang bermanfaat,” jelasnya.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar