Boyolali – Di sebuah dukuh kecil di Klego, Boyolali, roda sepeda ontel Muhammad Fauzan berderak pelan setiap pagi. Di keranjangnya, ada lima kilogram cilok yang harus ia jual. Itulah caranya menghidupi tiga anaknya, seorang diri. Fauzan, 46 tahun, punya keterbatasan penglihatan sejak lahir. Tapi itu tak menghentikan langkahnya. Dari jam delapan pagi sampai sore, ia mengayuh atau menuntun sepedanya, berkeliling kampung.
Kehidupan pria ini memang tak mudah. Beberapa tahun lalu, istrinya meninggal karena asma. Sejak itu, Fauzan jadi orang tua tunggal. Penghasilannya dari berjualan cilok pun tak menentu. Dalam sehari, kalau semua laku, ia cuma bawa pulang keuntungan bersih sekitar Rp50 ribu. Cukup untuk makan sehari-hari saja, apalagi biaya sekolah.
Namun, ada secercah harapan yang datang. Anak keduanya, Fathul Mu’in, yang ditinggal ibunya saat masih empat tahun, kini bisa bersekolah. Itu berkat program Sekolah Rakyat berasrama gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Bagi Fauzan, program ini seperti jawaban dari doanya yang paling khusyuk: agar anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan.
“Saya berharap anak saya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa,” ucap Fauzan, suaranya bergetar penuh syukur.
Meski ia sendiri tak bisa baca tulis, Fauzan punya prinsip yang kuat soal masa depan anaknya. Ia tak mau memaksakan kehendak. Biarlah sang anak yang memilih jalannya sendiri. Tentu, sebagai ayah, ada doa terselip di hatinya.
Artikel Terkait
Kasal Laksamana Muhammad Ali Sidak Mendadak, Uji Kesiapan Marinir di Hari Libur
Timnas Futsal Indonesia Takluk Tipis dari Thailand, Puas Bawa Pulang Perak Piala AFF 2026
Harga Plastik di Jember Melonjak Hampir 50% Akibat Gangguan Pasokan Global
Anggota DPR Desak Aturan Fair Share untuk Platform Digital Global