Suasana ibadah Minggu di dua gereja di Kaduna, Nigeria utara, berubah jadi mimpi buruk. Kelompok bersenjata tiba-tiba menyerbu, menciptakan kepanikan. Yang lebih mencekam, mereka membawa lari 163 jemaat Kristen dari lokasi kejadian.
Ini bukan kejadian satu-satunya. Di Nigeria, terutama wilayah utara dan tengah, aksi penculikan massal untuk tebusan sudah seperti bisnis harian bagi para bandit. Mereka juga kerap menjarah desa-desa, meninggalkan trauma yang dalam. Menurut AFP yang melaporkan kejadian ini Selasa lalu, pola serangan seperti ini terus berulang.
Pendeta Joseph Hayab, yang mengepalai Asosiasi Kristen Nigeria untuk wilayah utara, menggambarkan suasana mencekam itu. Ia menyebut para penyerang datang dalam jumlah besar.
“Mereka memblokir pintu masuk gereja, lalu memaksa jemaat keluar ke arah semak-semak,” ujarnya pada Senin (19/1).
“Sebenarnya, yang diculik 172 orang. Tapi sembilan berhasil kabur. Jadi, 163 orang masih ditahan mereka,” tambah Hayab.
Serangan Minggu itu adalah yang terbaru dalam rentetan panjang penculikan. Yang jadi sasaran, baik umat Kristen maupun Muslim. Sebuah laporan keamanan PBB yang juga dilihat AFP mencatat lebih dari 100 orang diculik. Laporan itu memperingatkan, serangan lanjutan sangat mungkin terjadi di daerah-daerah terpencil negara bagian tersebut.
Lokasi kejadiannya di desa Kurmin Wali, distrik Kajuru. Daerah ini mayoritas Kristen. Para pria bersenjata itu menyerang tepat saat misa Minggu berlangsung.
Memang, Nigeria seperti terbelah. Selatan mayoritas Kristen, utara didominasi Muslim. Tapi konflik di sana ruwet. Para ahli mencatat, korban berjatuhan dari kedua belah pihak, seringkali tanpa pandang bulu. Kekerasan jadi bahasa yang sama bagi semua.
Ingat kasus November lalu? Lebih dari 300 siswa dan guru dari sebuah sekolah Katolik di negara bagian Niger disandera geng bersenjata. Mereka baru dibebaskan beberapa minggu kemudian, itupun dalam dua gelombang. Rupanya, pola itu berulang.
Di sisi lain, situasi ini menarik perhatian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya, kerap menyoroti ketidakamanan di Nigeria. Fokusnya banyak pada pembunuhan umat Kristen, yang kemudian ia jadikan alat tekanan diplomatik terhadap pemerintah di Abuja.
Tak lama berselang, pada akhir Desember, AS bahkan melancarkan serangan di negara bagian Sokoto, barat laut Nigeria. Targetnya, menurut klaim AS dan pemerintah Nigeria, adalah militan yang dikaitkan dengan kelompok Negara Islam.
Jadi, serangan di Kaduna ini bukan insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah potret dari lingkaran kekerasan yang kompleks, dimana warga sipil dari agama apapun selalu jadi yang paling menderita.
Artikel Terkait
Perang Tujuh Pekan Lawan Iran, Stok Rudal Penting Militer AS Terkuras Hingga 50 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Pecat Dua Dirjen, Tiga Posisi Pimpinan di Kemenkeu Lowong
Sidang Korupsi Laptop Nadiem Makarim Ditunda karena Seluruh Kuasa Hukum Tak Hadir
BPA Fair 2026 Resmi Diluncurkan, Lelang 400 Lebih Aset Negara Ditargetkan Terserap 75 Persen