Perang Tujuh Pekan Lawan Iran, Stok Rudal Penting Militer AS Terkuras Hingga 50 Persen

- Rabu, 22 April 2026 | 17:30 WIB
Perang Tujuh Pekan Lawan Iran, Stok Rudal Penting Militer AS Terkuras Hingga 50 Persen

Militer Amerika Serikat dikabarkan sudah menghabiskan banyak sekali stok rudal penting selama perang melawan Iran. Konflik ini sendiri sudah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Dan situasinya agak mengkhawatirkan: kalau sampai AS terlibat perang lain dalam waktu dekat, mereka bisa kekurangan rudal.

Informasi ini, seperti dilaporkan Anadolu Agency pada Rabu (22/4/2026), sebenarnya berasal dari media CNN sehari sebelumnya. CNN mengutip laporan analisis terbaru dari Pusat Studi Strategis dan Internasional atau yang biasa dikenal sebagai CSIS.

Nah, menurut laporan CSIS itu, militer AS sudah "secara signifikan menghabiskan" pasokan rudal-rudal penting mereka. Kata-katanya memang seperti itu. Selama tujuh minggu perang, angka yang dipakai cukup bikin melongo. Misalnya, sekitar 45 persen Rudal Serangan Presisi sudah ludes. Setidaknya setengah dari rudal pencegat THAAD juga sudah dipakai. Belum lagi hampir 50 persen rudal pertahanan udara Patriot.

Yang menarik, CSIS bilang angka-angka ini ternyata cocok banget dengan perkiraan rahasia Pentagon. Ya, Departemen Pertahanan AS sendiri punya hitungan sendiri, dan laporan CSIS ini sejalan dengan itu.

Di sisi lain, bukan cuma itu saja. Analisis CSIS juga menyebut militer AS sudah menggunakan sekitar 30 persen rudal Tomahawk. Lalu lebih dari 20 persen rudal jarak jauh jenis Joint Air-to-Surface Standoff Missiles. Dan sekitar 20 persen rudal SM-3 serta SM-6 juga ikut terkuras.

Namun begitu, ada sedikit harapan. Pentagon sebenarnya sudah menandatangani kontrak awal tahun ini untuk meningkatkan produksi rudal. Tapi ya itu, prosesnya tetap makan waktu. Mau tidak mau, butuh tiga sampai lima tahun untuk mengisi kembali stok yang kosong. Bahkan kalau kapasitas produksi sudah ditingkatkan sekalipun.

Jadi ya, perang ini benar-benar menguras. Dan kita lihat saja ke depannya bagaimana.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar