Sayangnya, kekerasan tampaknya tak terhindarkan. Pada Kamis (8/1), saat aksi memasuki hari kedua belas, seorang polisi bernama Shahin Dehghan dilaporkan tewas ditusuk di wilayah Malard, barat Teheran. Kantor berita Fars menyebut upaya identifikasi pelaku masih berlangsung.
Yang juga mencemaskan, akses informasi seolah ikut diputus. Layanan internet di seluruh Iran dilaporkan padam pada hari yang sama. NetBlocks, kelompok pemantau internet global, yang mengonfirmasi pemadaman ini. Hingga kini belum ada penjelasan resmi. Dalam kevakuman informasi itu, beredarlah kabar dari media sosial sulit diverifikasi bahwa demonstran mulai meneriakkan slogan mendukung dinasti Pahlavi yang digulingkan pada 1979.
Reza Pahlavi, sang mantan putra mahkota yang kini hidup di pengasingan di AS, memang telah menyerukan agar protes diperluas.
Namun begitu, pemerintah punya narasi sendiri. Mereka membantah ada demonstrasi besar di kota-kota utama dan menyatakan situasi telah tenang. Lebih dari itu, otoritas secara terbuka menuding ada tangan asing yang mengacau. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara khusus menyebut Amerika Serikat dan Israel berupaya menyabotase aksi damai menjadi kerusuhan.
Dia mengklaim pemerintah tetap terbuka berdialog dengan berbagai kelompok untuk mengatasi persoalan. Tapi di lapangan, suasana tetap tegang. Unjuk rasa dilaporkan masih terjadi di Teheran, Mashhad, dan Isfahan, dengan yel-yel penolakan terhadap kekuasaan ulama. Sementara itu, AFP mencatat demo telah menyebar ke 23 dari 31 provinsi, menjangkati sedikitnya 45 kota, dengan episentrum di kota-kota kecil di wilayah barat.
Jalan panjang masih terhampar. Antara klaim normalisasi dari pemerintah dan gelombang kekecewaan yang terus bergulir di jalanan.
Artikel Terkait
Pertamina Enduro Juara Proliga Usai Drama Lima Set Melawan PLN
Stuttgart Hajar Hamburg 4-0 dalam Dominasi Mutlak di Bundesliga
Satgas Cartenz 2026 Ungkap Ladang Ganja 226 Batang di Pegunungan Bintang
IHSG Melonjak 2,07%, Catat Kenaikan Mingguan Lebih dari 6%