Itu inti kemarahan mereka. Para petani menentang keras cara pemerintah menangani negosiasi perdagangan bebas dengan blok Mercosur. Mereka khawatir kesepakatan itu akan membuka banjir impor produk pertanian dengan standar yang lebih rendah, yang tentu saja mengancam mata pencaharian lokal.
Namun begitu, itu bukan satu-satunya keluhan. Ada masalah lain yang lebih mendesak dan langsung dirasakan di peternakan: wabah penyakit kulit pada hewan ternak. Bagi mereka, penanganan pemerintah terhadap dua isu krusial ini perdagangan dan wabah terasa lambat dan tidak memadai.
Jadi, aksi ini lebih dari sekadar demo biasa. Ini adalah teriakan frustrasi dari mereka yang merasa dipinggirkan, yang bersiap melawan apa yang mereka anggap sebagai ancaman ganda terhadap masa depan pertanian Prancis.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana dan Warisan Pengkhianatan dalam Sejarah Politik Indonesia
Lampu Huntara Menyala, Harapan Kembali di Desa Babo
Kontrak Sewa Kapal Tanpa Nilai Jelas, FMPKN Soroti Potensi Lubang Anggaran
Dua Pria Ditangkap Basah di Makassar, Modus Palsukan Jaksa untuk Peras Saksi Kasus Korupsi