Sebenarnya, di sinilah ujian iman itu. Apakah kita bisa tetap mendengarkan khotbah yang menurut kita biasa saja, atau malah baru semangat kalau ceramahnya lucu dan penuh guyonan?
Seorang tuan guru pernah bilang, mendengarkan ceramah agama itu ada proses evaluasinya. Kita harus menyimak tanpa prasangka, tanpa memandang siapa yang berdakwah atau apa materinya.
Namun, fenomena melakukan hal sia-sia saat ustaz berceramah apalagi di waktu salat Jumat tetap saja bikin hati miris. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab memperbaiki keadaan ini?
Menurut saya, jawabannya adalah kita semua.
Pertama, takmir masjid perlu lebih gencar menyosialisasikan adabnya. Bisa lewat spanduk, pengumuman singkat sebelum azan, atau lewat kajian khusus. Beberapa masjid sudah menerapkan aturan matikan HP, dan efeknya cukup terasa. Kalau perlu, tinggalkan saja ponsel di rumah agar lebih khusyuk.
Ketiga, dan ini yang utama, kesadaran harus datang dari diri jemaah sendiri. Ibadah adalah hak Allah yang tak boleh dilakukan asal-asalan. Urusan dunia bisa ditunda 30-40 menit. HP bisa dimatikan atau ditinggal. Demi menghormati kalam yang disampaikan dari mimbar.
Salat Jumat bukan ritual mingguan biasa. Ini ibadah komunal yang seharusnya jadi sarana belajar, pemersatu, dan pengingat nilai-nilai kehidupan. Ketika khotbah kehilangan pendengarnya, yang hilang bukan cuma adab. Tapi juga kesempatan dapat hidayah, nasihat, dan momen berharga untuk merenung.
Mungkin sudah saatnya kita mengembalikan kesakralan salat Jumat. Bukan dengan menghakimi, tapi lewat edukasi yang baik, keteladanan, dan kesadaran kolektif. Ibadah yang sempurna lahir dari kesungguhan yang utuh termasuk saat menyimak khotbah dengan sepenuh hati.
Wallahu a’lam bishawab.
Artikel Terkait
Bambang Tri Mulyono Kembali ke Meja Hijau, Gugat Ijazah Presiden di Ulang Tahunnya
Tito Karnavian Kualat Lupa Sebut Nama Purbaya di Rapat Satgas Aceh
RSUD di Sumatera Kembali Beroperasi, Namun Sejumlah Puskesmas Masih Terhenti
Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise