Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil

- Jumat, 09 Januari 2026 | 10:25 WIB
Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil

Pagi itu, laut tampak tenang. Angka-angka di atas kertas pun terlihat menjanjikan. Tapi jangan terkecoh dulu. Ocean Health Index Indonesia memang naik peringkat, dari posisi 189 melompat ke 169 dari 220 negara. Sekilas, ini kabar baik. Seolah-olah arah pengelolaan laut kita mulai membaik. Namun begitu, di balik kenaikan peringkat yang cukup signifikan itu, laut kita ternyata masih menyimpan luka lama. Luka yang belum sembuh sepenuhnya.

Nyatanya, skor kesehatan laut kita di tahun 2025 cuma 66. Angka ini masih ketinggalan jauh jika dibandingin sama rata-rata global yang mencapai 72. Yang bikin miris, justru indikator-indikator yang bersentuhan langsung dengan urat nadi nelayan kecil dan warga pesisir malah melemah. Inilah paradoks yang muncul. Peringkat naik, tapi fondasi untuk keberlanjutan sama sekali belum kokoh.

Dari sepuluh indikator yang jadi penyusun indeks itu, empat di antaranya yang strategis malah anjlok. Penyediaan pangan laut atau Food Provision merosot tajam. Peluang buat nelayan tradisional juga ikut melemah. Belum lagi soal perlindungan pesisir dan indikator mata pencaharian semuanya menunjukkan tren yang kurang bagus. Ini bukan cuma deretan angka statistik belaka. Ini potret nyata betapa rapuhnya hubungan antara negara, laut, dan orang-orang kecil yang hidup darinya.

Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) melihat kondisi ini sebagai sinyal bahaya. Menurut mereka, kebijakan kelautan kita selama ini belum benar-benar berpihak pada kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Indikator yang paling dekat dengan denyut nadi nelayan justru jadi titik terlemah,” ujar Hendra Wiguna, Ketua Umum KPPMPI.

Pernyataannya itu bukan asal bunyi. Ini lahir dari pembacaan data yang dingin, tapi jujur.

Ambil contoh indikator Food Provision. Skornya cuma 24 yang terendah dan turun dari tahun sebelumnya. Ini tanda jelas bahwa laut sebagai sumber pangan kita sedang rapuh. Di lapangan, praktik perikanan tangkap dan budidaya belum juga berubah ke arah yang lebih berkelanjutan. Alat tangkap tak ramah lingkungan seperti trawl masih saja berkeliaran, misalnya di perairan sekitar Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Praktik semacam ini nggak cuma merusak dasar laut, tapi juga mempersempit habis ruang hidup nelayan-nelayan kecil yang cuma punya peralatan seadanya.

Tekanan lain datang dari sektor budidaya yang limbahnya nggak dikelola dengan baik. Atau aktivitas pengolahan loin tuna di Maluku Utara yang menambah beban ekologis. Semuanya berkontribusi pada satu hal: lemahnya kemampuan laut kita menyediakan pangan untuk jangka panjang.


Halaman:

Komentar