Lalu bagaimana dengan kayu-kayu gelondongan yang berserakan itu? Tito menyebut, material tersebut rencananya akan dialihfungsikan untuk pembangunan hunian tetap bagi korban.
“Kalau untuk pemanfaatan kayu itu lebih banyak mungkin diprioritaskan apa namanya itu untuk pembangunan, untuk pembangunan rumah-rumah hunian tetap (huntap) nantinya itu,”
tuturnya.
Nyatanya, tak perlu menunggu instruksi resmi. Beberapa warga di daerah seperti Langkahan sudah lebih dulu bergerak. Mereka memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk memperbaiki rumah yang rusak, bahkan tempat ibadah yang porak-poranda.
“Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong ada yang juga yang untuk bangun pagarnya,”
pungkas Tito. Sebuah langkah sederhana, tapi penuh makna, memulihkan dengan apa yang ada.
Artikel Terkait
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai