Wamen Ribka Haluk Serukan Perempuan Papua Berani Berubah di Kongres Cendekiawan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 13:42 WIB
Wamen Ribka Haluk Serukan Perempuan Papua Berani Berubah di Kongres Cendekiawan

Di Ballroom Hotel Ambhara, Jakarta, suasana pagi Jumat (5/12) itu terasa berbeda. Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk berdiri di hadapan para peserta Kongres II Cendekiawan Perempuan Papua. Pesan yang ia sampaikan jelas dan tegas: perempuan Indonesia harus berani berubah. Menjadi sosok yang inovatif, kolaboratif, dan transformatif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjawab tantangan zaman.

“Kolaboratif ini sangat penting sekali,” ujarnya, menekankan poin kunci dari tema kongres hari itu.

“Tadi ketua umum sedikit sudah menyampaikan jejaringnya. Bagaimana melakukan kolaborasi kerja, dengan siapa, apa sudah berjalan. Kemudian transformatif, bagaimana dari nilai yang lama, kita bisa transformasi pada nilai baru, dengan perubahan baru.”

Menurut Ribka, peran cendekiawan kelompok pemikir cerdas dan penemu gagasan sangat krusial. Tujuannya satu: meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan untuk konteks Papua, modalnya sudah ada. Kekayaan alamnya melimpah, kearifan lokalnya kuat. Itu semua aset berharga yang tak boleh dibiarkan menganggur.

“Papua juga memiliki sumber daya alam dan daya potensi manusianya. Inilah modal kita di Papua yang tidak [boleh] kita biarkan begitu [saja],” tegasnya.

Di tengah kekayaan itu, perempuan Papua punya peran ganda. Mereka adalah tulang punggung keluarga sekaligus motor penggerak ekonomi komunitas. Memang, jurang kesenjangan masih nyata dan target 2025 untuk menutupnya terasa dekat. Tapi Ribka tak kehilangan optimisme. Lihat saja buktinya: makin banyak perempuan yang duduk di kursi legislatif, baik di pusat maupun daerah.

Ia bahkan dengan bangga bercerita tentang upayanya mendobrak stigma. “Saya sudah promosikan dua perempuan pernah menjadi Pj. Bupati, karena saya ingin mengubah stigma yang selama ini, masyarakat Papua menganggap bahwa perempuan itu tidak bisa.”

Harapannya ke depan sederhana namun mendasar: kesetaraan gender, martabat, dan harga diri perempuan harus terus naik. Peran mereka terlalu vital untuk diabaikan. Mulai dari mengurus rumah tangga, menjaga anak-anak, merawat lingkungan, hingga membangun masyarakat semua saling terkait.

Acara pembukaan kongres itu sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci. Tampak hadir Ketua Umum Cendekiawan Perempuan Papua Rosaline Irene Rumaseuw, dan juga Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Kehadiran mereka seperti memberi penegasan: perbincangan serius tentang peran perempuan Papua memang sedang bergulir, dan perjalanannya masih panjang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar