Selasa (6/1) lalu, mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro harus dilarikan ke rumah sakit. Ia terjatuh di dalam penjara tempatnya mendekam.
Menurut laporan AFP, Bolsonaro yang berusia 70 tahun itu akhirnya dibawa ke sebuah rumah sakit swasta. Di sana, ia menjalani serangkaian pemeriksaan seperti CT scan, MRI, dan juga tes EEG.
Lewat unggahan di media sosial, istri Bolsonaro bercerita soal kejadian itu. Katanya, suaminya jatuh di balik jeruji besi dan kepalanya terbentur keras.
Pihak kepolisian sendiri menyebut cedera yang dialami Bolsonaro tergolong ringan dan sudah ditangani. Tapi, tim pengacaranya punya pandangan lain. Mereka malah mengajukan permohonan ke pengadilan agar Bolsonaro bisa diperiksa lebih lanjut di rumah sakit. Permohonan itulah yang kemudian dikabulkan.
Seorang dokter yang memeriksa menggambarkan kondisi Bolsonaro saat itu. "Lesu, kelopak mata kirinya sedikit terkulai, tekanan darahnya normal. Tapi ada tanda-tanda pusing pasca jatuh," ujarnya.
Bolsonaro sendiri sudah mendekam sejak September 2025. Ia divonis bersalah karena berupaya menghalangi pelantikan Luiz Inacio Lula da Silva sebagai presiden pada 2022.
Persidangan mengungkap fakta yang lebih gelap. Upaya Bolsonaro ternyata bukan cuma soal menghalangi. Jaksa menyebut ada rencana untuk membunuh Lula. Rencana itu akhirnya gagal, salah satunya karena kurangnya dukungan dari kalangan militer.
Masalahnya belum berakhir di situ. Bolsonaro masih harus menghadapi peradilan militer yang akan memutuskan apakah pangkat kaptennya dicopot atau tidak.
Tak hanya dia, sejumlah kroninya juga mulai merasakan dinginnya jeruji besi. Para jenderal hingga mantan menteri yang terlibat dalam kudeta gagal itu mulai menjalani hukuman pada Selasa, 25 November. Vonis untuk mereka bervariasi, antara 19 hingga 26 tahun penjara.
Paulo Bueno, pengacara Bolsonaro, mengaku terkejut dengan putusan tersebut. "Kami yakin kasus ini belum selesai. Masih ada celah untuk banding," tegasnya.
Bolsonaro memimpin Brasil dari 2019 hingga 2022. Dengan vonis ini, ia tercatat sebagai presiden keempat yang dipenjara setelah masa jabatannya berakhir, sejak era kediktatoran militer Brasil runtuh pada 1985.
Di berbagai kesempatan, Bolsonaro yang dikenal dekat dengan Donald Trump selalu bersikukuh. Ia menyatakan diri tak bersalah dan merasa menjadi korban persekusi politik yang penuh rekayasa.
Artikel Terkait
Manchester United Capai Kesepakatan Penuh dengan Atalanta untuk Gelandang Éderson
Polisi Gagalkan Penyelundupan 47.872 Benih Lobster Ilegal Senilai Rp7 Miliar di Jambi
Darije Kalezic Dikabarkan Kembali ke PSM Makassar, Reuni Tujuh Tahun Usai Tinggalkan Juku Eja
Polisi Bergulat dengan Dua Anggota Geng Motor di Makassar, Sita Busur Panah dan Pisau Dapur