"Nah, tiba-tiba orang itu bilang pelebarannya makan tanah dia. Karena nggak terima, ya akhirnya dia pasang pondasi kayak gitu. Sekarang yang mau lewat jadi susah semua," ujar Juremi, Rabu (7/1/2026).
Kekecewaan warga ternyata tidak hanya mengarah ke si pelaku blokade. Pemerintah Desa Kalangan juga jadi sasaran kritik. Di mata mereka, perangkat desa terkesan tutup mata dan membiarkan konflik ini berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat upaya mediasi formal dari pihak desa. Akibatnya, warga yang merasa terjepit akhirnya mengambil langkah sendiri.
"Kami terpaksa cari jalan alternatif, bikin tembusan ke jalan raya. Semua swadaya, tanpa bantuan dari Pemdes," jelas Juremi dengan nada kesal.
Jalan desa yang semestinya jadi penghubung, kini justru jadi sumber masalah. Sementara tumpukan batu itu masih tertinggal di sana, menunggu tindakan tegas yang sepertinya tak kunjung datang.
Artikel Terkait
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar
Nakhoda dan ABK Mesin KM Putri Sakinah Resmi Jadi Tersangka
Mensos: Sekolah Rakyat Tambah 200 Titik, Targetkan 45.000 Siswa pada 2027