Beberapa hari lalu, kabar mengejutkan beredar. Presiden Donald Trump, konon, sudah memberi lampu hijau. Targetnya? Menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Menurut laporan CNN, izin resmi untuk operasi rahasia di Venezuela sebenarnya sudah diberikan Trump ke CIA berbulan-bulan silam. Tak heran, setelah itu, lokasi dan pergerakan Maduro pun dilacak dengan saksama oleh badan intelijen tersebut.
Dan hari ini, penangkapan itu benar-benar terjadi. Tapi, setelah diambil dari kediamannya, keberadaan Maduro justru jadi tanda tanya besar. Di mana dia sekarang? Tak ada yang tahu pasti.
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, langsung bersuara lantang. Dia menegaskan bahwa Maduro tak akan bisa lolos.
"Maduro akan menghadapi murka keadilan AS di tanah Amerika dan di pengadilan Amerika," tegas Bondi.
Dakwaannya berat-berat. Bondi membeberkan sederet tuduhan: mulai dari Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, hingga kepemilikan senjata mesin dan alat perusak. Intinya, dia digambarkan sebagai otak dari skema kriminal berskala internasional.
Sebenarnya, ini bukan hal baru. Pemerintahan Trump sejak lama sudah mencap Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba. Distrik Selatan New York bahkan sudah mendakwanya sejak 2020.
Namun begitu, Maduro tak pernah tinggal diam. Selama ini, semua tuduhan itu dia bantah habis-habisan. Dia menyebutnya sebagai bagian dari skema AS untuk menjatuhkan pemerintahannya.
Sekarang, dengan Maduro dalam kendali AS, situasinya berubah total. Drama politik dan hukum yang panjang antara Washington dan Caracas memasuki babak baru yang sama sekali tak terduga.
Artikel Terkait
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara
Situasi Yahukimo Kembali Tenang Pasca Kontak Tembak dengan KKB
Bupati Bantaeng Tegaskan Pemberhentian Permanen Direktur PDAM Tirta Eremerasa
Ghost in the Cell Dirilis di 86 Negara, Joko Anwar Angkat Horor Penjara dengan Kritik Sosial